Perang Meletus? Presiden Rusia Resmi Kirim Pasukan ke Ukraina

Foto: AP/Sergey Guneev

GLOBAL JAKARTA – Ancaman perang masih terus membayangi Eropa. Ini datang dari konflik Rusia dan Ukraina, yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan NATO.

Presiden Rusia Vladimir Putin disebut menandatangani sebuah dekrit, Senin (21/2/2022).

Bacaan Lainnya

Tak hanya mengakui dua wilayah yang hendak memisahkan diri dari Ukraina sebagai negara, ia juga memerintahkan angkatan bersenjata Rusia masuk ke wilayah-wilayah tersebut.

Dikutip dari CNN Internasional, ia memobilisasi pasukan dengan dalih “fungsi penjaga perdamaian”.

Kedua wilayah yang ia akui kemerdekannya berada di Ukraina Timur, yakni Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR), yang sudah sejak lama memang didukung Rusia.

Hal ini diketahui dari seorang pejabat senior Amerika Serikat atas informasi intelijen. Pasukan Rusia diyakini akan bergerak ke Donbas, salah satu wilayah konflik yang ingin memisahkan diri, paling lama Selasa ini.

AS juga menyebut persiapan operasi militer juga telah dilakukan Rusia. Termasuk memuat kapal amfibi dan unit dara, meski tak dijelaskan detail.

Sebelumnya, Senin pagi waktu setempat, Putin diketahui memang menyampaikan pidato berapi-api saat mengakui kemerdekaan dua wilayah bergejolak di Ukraina Timur. Meski sebelumnya Barat sudah mengancam sanksi besar-besaran.

“Saya percaya perlu untuk mengambil keputusan yang lama tertunda, untuk segera mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk,” katanya, dikutip dari AFP, seraya menyebut bantuan timbal balik ke pemimpin pemberontak.

Uni Eropa (UE) bereaksi atas tindakan Putin. Bahkan tindakan Putin disebut melanggar hukum internasional, integritas Ukraina, dan perjanjian gencatan senjata Minsk.

Sebelumnya, Badan Intelijen Luar Negeri Estonia menyebut Rusia kemungkinan akan melancarkan serangan militer terbatas. Serangan itu akan mencakup pemboman senjata rudal dan pendudukan “medan utama” di Ukraina.

“Saat ini, penilaian kami adalah bahwa mereka akan menghindari kota-kota dengan populasi besar, karena dibutuhkan banyak pasukan untuk mengendalikan daerah-daerah itu,” kata Direktur Jenderal Badan Intelijen Luar Negeri Estonia, Mikk Marran, dikutip Reuters pekan lalu.

Kemungkinannya, katanya kala itu, Rusia akan mengintensifkan pertempuran di wilayah yang hendak memisahkan diri dari Ukraina dan didukung Moskow.

“Eskalasi semacam itu sangat mungkin. Dan dengan cara ini, Rusia kemungkinan mendapat penyangkalan yang masuk akal dan menghindari sanksi,” kata Marran lagi.

“Jika Rusia berhasil di Ukraina, itu akan mendorongnya untuk meningkatkan tekanan di Baltik di tahun-tahun mendatang. Ancaman perang telah menjadi alat kebijakan utama bagi Putin.”

Konflik Rusia dan Ukraina diyakini sejumlah pengamat bisa memicu Perang Dunia ke-3 (World War 3). Mengutip, 19fortyfive, Dr. Robert Farley, pengajar studi keamanan dan diplomasi di The Patterson School di AS, memaparkan hal tersebut. (**)

Pos terkait

Plt Ketua DPRA Safaruddin ucapan selamat Idul Fitri 1443 H