Jakarta – Operasi militer Amerika Serikat bertajuk “Operation Epic Fury” diperkirakan telah menghabiskan biaya sekitar 5,82 miliar dolar AS hanya dalam 100 jam pertama sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026.
Angka tersebut dihimpun dari kompilasi data yang dirangkum kantor berita Turki, Anadolu Agency, dikutip Sabtu (7/3/2026).
Jumlah itu setara dengan sekitar 0,69 persen dari total anggaran pertahanan Amerika Serikat pada 2026. Jika dikonversi menggunakan asumsi nilai tukar sekitar Rp16.000 per dolar AS, total biaya operasi tersebut mencapai kurang lebih Rp93,12 triliun.
Nilai ini menggambarkan besarnya beban finansial yang harus ditanggung Washington dalam fase awal operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Perhitungan Anadolu menunjukkan, pada 24 jam pertama operasi militer, AS diperkirakan mengeluarkan biaya sekitar 779 juta dolar AS. Seiring berlanjutnya operasi, total biaya ofensif meningkat hingga sekitar 3,3 miliar dolar AS.
Estimasi tersebut juga sejalan dengan perhitungan lembaga riset kebijakan internasional, Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang menilai pengeluaran militer AS dalam fase awal perang meningkat tajam karena intensitas serangan dan pengerahan berbagai sistem persenjataan.
Selain biaya operasional, Amerika Serikat juga mengalami kerugian materiil akibat serangan balasan Iran. Berdasarkan estimasi Anadolu, total kerusakan aset militer AS sejauh ini diperkirakan mencapai sekitar 2,52 miliar dolar AS.
Kerugian terbesar berasal dari hancurnya sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar yang bernilai sekitar 1,1 miliar dolar AS. Radar tersebut dilaporkan rusak setelah terkena serangan rudal Iran, dan pihak Qatar mengonfirmasi fasilitas itu memang terdampak serangan.
Pada Minggu (2/3/2026), tiga jet tempur F‑15E Strike Eagle juga dilaporkan hilang akibat insiden tembakan “teman sendiri” dari sistem pertahanan udara Kuwait. Seluruh enam awak pesawat selamat, namun nilai penggantian tiga pesawat tersebut diperkirakan mencapai sekitar 282 juta dolar AS.
Selain itu, pejabat Amerika Serikat yang berbicara kepada CBS News menyebutkan tiga drone pengintai dan serang MQ‑9 Reaper milik Angkatan Udara AS juga telah ditembak jatuh, dengan total kerugian sekitar 90 juta dolar AS.
Dalam serangan awal Iran pada Sabtu (1/3/2026), markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain turut menjadi sasaran. Serangan tersebut dilaporkan menghancurkan dua terminal komunikasi satelit serta sejumlah bangunan besar lainnya di kompleks militer tersebut.
Laporan intelijen sumber terbuka mengidentifikasi terminal komunikasi satelit yang hancur sebagai tipe AN/GSC-52B dengan estimasi biaya sekitar 20 juta dolar AS, termasuk instalasi dan penempatannya.
Analisis citra satelit yang dipublikasikan oleh The New York Times juga menunjukkan tiga radome tambahan hancur di Camp Arifjan di Kuwait. Kerusakan tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar 30 juta dolar AS bagi militer Amerika Serikat.
Selain itu, komponen radar AN/TPY-2 dari sistem pertahanan rudal balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Kota Industri Al-Ruwais, Uni Emirat Arab dilaporkan ikut hancur. Setiap radar tersebut diperkirakan bernilai sekitar 500 juta dolar AS, sementara laporan lain menyebut satu sistem serupa di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania kemungkinan juga rusak.
Secara keseluruhan, kerusakan aset militer Amerika Serikat akibat serangan Iran diperkirakan mencapai sekitar 2,52 miliar dolar AS. Nilai ini menambah tekanan biaya yang harus ditanggung Washington di tengah operasi militer yang masih berlangsung.
Sementara itu, analisis CSIS menyebut estimasi pengeluaran awal sebesar 779 juta dolar AS kemungkinan mencerminkan biaya operasi militer harian AS selama konflik berlangsung.
CSIS memperkirakan pengisian kembali persediaan amunisi yang digunakan dalam 100 jam pertama operasi dapat menelan biaya sekitar 3,1 miliar dolar AS. Jika operasi terus berlanjut, tambahan pengeluaran diperkirakan mencapai sekitar 758,1 juta dolar AS per hari.
Besarnya biaya ini terutama dipicu oleh penggunaan intensif berbagai sistem senjata canggih dan mobilisasi kekuatan militer dalam skala besar di kawasan.
Dua kapal induk Amerika Serikat, yakni USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, yang masih berada di kawasan bersama kapal perusak dan kapal tempur pesisir lainnya, diperkirakan menghabiskan sekitar 15 juta dolar AS per hari untuk operasional.
Kehadiran kapal induk tersebut menjadi bagian dari strategi militer Washington dalam menjaga dominasi kekuatan laut di wilayah konflik.
Selain itu, sistem pertahanan Amerika Serikat juga digunakan secara intensif untuk mencegat serangan Iran. Berdasarkan estimasi Payne Institute for Public Policy, militer AS telah menembakkan sekitar 180 pencegat rudal laut SM-2, SM-3, dan SM-6, sekitar 90 rudal Patriot PAC-2 dan PAC-3, serta 40 pencegat THAAD selama operasi berlangsung.
Penggunaan ratusan pencegat tersebut menunjukkan tingginya intensitas serangan dan pertahanan udara dalam konflik yang hingga kini masih terus berkembang. (*)

Tinggalkan Balasan