Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Religi

Ini Penjelasan UAH Alasan Penggunaan Metode Rukyatul Hilal di Zaman Nabi Muhammad SAW

514
×

Ini Penjelasan UAH Alasan Penggunaan Metode Rukyatul Hilal di Zaman Nabi Muhammad SAW

Sebarkan artikel ini
Ustadz Adi Hidayat (UAH). Foto: Int

“Jadi baik rukyat atau pun hisab pada dasarnya metodologi untuk menetapkan. Dipilih untuk memudahkan bukan untuk diperselisihkan,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

JAKARTA – Penentuan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal memiliki dua metode yang bisa digunakan, yaitu rukyatul hilal dan hisab, demikian dikatakan oleh Ustaz Adi Hidayat.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ustad Adi Hidayat atau yang akrab disapa UAH menjelaskan, bahwa metode rukyatul hilal atau melihat hilal merupakan metode yang biasa dipakai pada zaman Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam menentukan waktu-waktu ibadah harian seperti shalat.

Metode ini, katanya, sudah menjadi tradisi karena pada zaman Nabi, masyarakatnya umumnya tidak bisa membaca, menulis, dan menghitung secara kompleks.

“Kenapa rukyat? Karena memang pada umumnya di zaman Nabi, masyarakatnya memang tidak bisa membaca, menulis, apalagi menghitung secara kompleks,” ujar Ustaz Adi Hidayat.

Menurutnya, faktor kemudahan menjadi alasan mengapa Nabi Muhammad SAW memilih metode rukyat melihat hilal, karena pada saat itu belum ada yang mampu melakukan analisis perhitungan astronomis.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu demikian dan demikian, yakni suatu kali 29 hari dan suatu 30 hari” (HR. Bukhari).

Namun, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa umat Muslim tidak harus mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah SAW apabila sudah menemukan metode yang lebih mudah, yakni metode hisab.

“Jika Anda memang merasakan mudah, silahkan praktikkan karena kami, kata nabi, dulu pada umumnya nggak bisa ngitung. Maka bagi yang mudah untuk itu (hisab) silakan praktikkan. Baik menggunakan hisab ataupun rukyat, prinsipnya adalah merasakan kehadiran Ramadhan,” kata UAH.

Dalam penentuan metode, baik rukyat maupun hisab, pada dasarnya merupakan metodologi untuk menetapkan.

Dipilih untuk memudahkan bukan untuk diperselisihkan. Sebab prinsipnya, yang terpenting adalah merasakan kehadiran Ramadhan.

“Jadi baik rukyat atau pun hisab pada dasarnya metodologi untuk menetapkan. Dipilih untuk memudahkan bukan untuk diperselisihkan,” ungkap Ustadz Adi Hidayat. (Fajar/KontenJatim).

Editor : Salman

Baca Juga :   Tgk Akhyar: Manfaat Optimalkan Waktu dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *