Yerusalem – Otoritas Israel melarang pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur yang diduduki.

ADVERTISEMENT

Kebijakan tersebut diberlakukan dengan alasan keamanan di tengah meningkatnya ketegangan Israel-AS dengan Iran.

Larangan ini memicu protes dari warga Palestina yang menilai kebijakan tersebut membatasi kebebasan beribadah. Situasi ini terjadi menjelang perayaan Idul Fitri yang menjadi momen sakral bagi umat Muslim merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan.

ADVERTISEMENT

Sebagai respons, warga Palestina menyerukan umat Muslim untuk tetap berkumpul di kawasan Kota Tua pada Jumat (20/3/2026). Mereka mengajak masyarakat melaksanakan Shalat Idul Fitri sedekat mungkin dengan kompleks Al-Aqsa.

Seruan itu disampaikan sebagai bentuk perlawanan simbolik atas pembatasan yang diberlakukan. Selain itu, langkah tersebut juga dimaksudkan untuk menjaga tradisi ibadah yang telah berlangsung turun-temurun.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, aparat kepolisian Israel dilaporkan mengambil tindakan tegas terhadap warga Palestina yang mencoba beribadah di luar tembok Kota Tua. Mereka menggunakan pentungan, granat kejut, dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Tindakan itu dilakukan saat warga menggelar protes atas penutupan akses ke Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadhan. Insiden tersebut semakin memperkeruh situasi keamanan di wilayah Yerusalem Timur.

ADVERTISEMENT

Memasuki hari raya, suasana di Yerusalem Timur terlihat tidak seperti biasanya. Kawasan Kota Tua yang umumnya ramai menjelang Idul Fitri tampak lengang.

Aktivitas masyarakat menurun drastis, menciptakan kesan seperti kota mati. Kondisi ini mencerminkan dampak langsung dari pembatasan yang diberlakukan otoritas Israel.

Selain membatasi aktivitas ibadah, Israel juga memberlakukan pembatasan ekonomi di kawasan tersebut. Pedagang Palestina tidak diizinkan membuka toko mereka selama periode pembatasan berlangsung.

Hanya apotek dan toko bahan pokok yang diperbolehkan beroperasi. Kebijakan ini menambah beban masyarakat yang sudah terdampak situasi konflik.

Editor: Tim Redaksi