Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
BeritaHeadlineHukum

AR Ungkap jika Ia Tak Bunuh Ibunya dengan Sebilah Kayu

202
×

AR Ungkap jika Ia Tak Bunuh Ibunya dengan Sebilah Kayu

Sebarkan artikel ini
Polres Abdya menggelar rekonstruksi penyebab meninggalnya Mardiati, warga Desa Alue Peunawa, Kecamatan Babahrot, di Mapolres setempat, Rabu (25/5/2022). (Dok Polres Abdya)

GLOBAL BLANGPIDIE – Pria berinisial AR alias Saman (32), warga Desa Alue Peunawa, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang dilaporkan membunuh ibunya dengan sebilah kayu pada Senin, (23/5/2022) lalu, ternyata tidak memukul ibu kandungnya, Mardiati hingga meninggal dunia.

Hal itu dikatakan AR saat adegan reka ulang (rekonstruksi) yang digelar Polres Abdya, Rabu (25/5/2022) kemarin.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dalam keterangannya, AR alias Saman menceritakan kronologi kejadian ibu kandungnya hingga menghembuskan nafas terakhir.

Baca Juga :   Peduli Kesehatan, Pemerintah Gampong Keude Matangkuli Gelar Posyandu Lansia

AR mengaku tidak memukul ibu kandungnya Mardiati sebagaimana yang telah dilaporkan ayah tirinya pasca peristiwa itu ke Polsek Babahrot, Abdya.

“Pagi itu, saya mau buat kopi. Kebetulan gas habis di rumah. Jadi, saya keluar cari kayu bakar buat memasak air. Kemudian, saya menemukan sebilah kayu kering . Tidak lama kemudian, saya lihat ayah sama ibu berboncengan dengan motor Scoopy. Kebetulan motor itu milik kami. Saat itu saya panggil mereka, mau pinjam motor karena ingin beli bubuk kopi,” terang Saman.

Baca Juga :   Sembilan Warga Asal Nias Sumut Masuk Islam di Abdya

Namun, sebut Saman, kedua orang tuanya itu tidak berhenti saat di panggil. Karena merasa kesal, ia kemudian melemparkan sebilah kayu tersebut ke tanah.

“Saya tidak melempar kayu kearah mereka. Kayu itu saya lempar ke tanah. Kemudian, ayah menarik gas motornya karena kaget. Saat itu juga ibu terjatuh ke aspal hingga mengeluarkan darah dari telinganya,” ungkapnya.

Melihat Mardiati yang jatuh tergelatak dengan kondisi berlimuran darah di jalan, sontak Saman langsung memeluk ibunya tersebut. Ia kemudian melarikan ibunya ke rumah sakit dengan adiknya yang bernama Marbawi.

Baca Juga :   Pemkab Aceh Utara Fasilitasi Etnis Rohingya

“Saya peluk ibu saat itu. Kemudian, kami bawa beliau ke Puskesmas Lama Inong, karena tidak bisa ditangani, kami larikan ibu ke Rumah Sakit Teungku Peukan,” kenang Saman.

Tidak lama tiba di rumah sakit, lanjut Saman, nyawa Mardiati tidak tertolongkan. Ibunya pun menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Saman.

“Atas kejadian ini, saya merasa sangat terpukul. Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan saat ini. Saya tidak memukul ibu saya seperti kabar yang beredar,” ungkap Saman dengan nada sedih.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *