Keluhan yang sama juga disampaikan warga lainnya, Khairuman. Ia menyebut beban ekonomi masyarakat semakin berat di tengah kondisi listrik padam dan kebutuhan hidup yang terus meningkat.

ADVERTISEMENT

“Bagi yang mampu mungkin tidak masalah, tapi bagi masyarakat kecil ini sangat memberatkan. Untuk makan dan biaya sekolah anak saja sudah sulit, ditambah lagi harga BBM yang melambung,” ujar Khairuman.

Ia mengapresiasi langkah kepolisian dalam mengatur arus lalu lintas di sekitar SPBU. Namun, menurutnya, penertiban lalu lintas saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan penyebab antrean panjang kendaraan.

ADVERTISEMENT

Akan tetapi, yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini ialah tindakan nyata aparat keamanan yang harus lebih tanggap dan serius dalam menyelesaikan permasalahan antrean panjang BBM tersebut.

“Kalau kedapatan, pak polisi tangkap saja oknum yang antre untuk dijual kembali. Ini sudah sangat meresahkan dan membebani masyarakat,” tegasnya.

ADVERTISEMENT

Khairuman juga mendesak pemerintah daerah, DPRK, dan aparat penegak hukum untuk bersinergi menindak tegas praktik penimbunan dan permainan harga BBM. Ia menilai langkah bersama diperlukan agar persoalan tidak terus berlarut.

Sementara itu, warga dan pedagang di Gampong Padang Hilir, Kecamatan Susoh, mengaku kerap melihat kendaraan yang sama berulang kali mengantre di SPBU Pantai Perak. Kondisi tersebut menimbulkan kecurigaan adanya praktik pelangsiran BBM.

ADVERTISEMENT

“Ada mobil yang itu-itu saja, baik mobil pribadi maupun pikap. Diduga memang untuk melangsir minyak,” kata David, seorang pedagang warung kopi di kawasan tersebut.

Hal senada disampaikan seorang warga yang rumahnya berada di tepi jalan nasional Gampong Padang Hilir, Susoh. Ia mengaku hampir setiap hari melihat kendaraan yang sama kembali mengantre di SPBU.

“Kemarin antre, hari ini kelihatan antre lagi. Itu yang kami lihat setiap hari,” ujarnya. (*)

Editor: Tim Redaksi