Blangpidie – Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Safaruddin menginstruksikan Dinas Sosial (Dinsos) dan Baitul Mal untuk turun langsung ke rumah Nurlaila (30), seorang janda dengan tiga anak yang tinggal di Dusun Alue Badeuk, Gampong Cot Mane, Kecamatan Jeumpa.
“Saya instruksikan kepada Dinsos dan Baitul Mal segera turun ke rumah Ibuk Nurlaila, pastikan mereka tidak terabaikan. Jika layak dibantu, segera diberikan bantuan,” kata Bupati Safaruddin, Senin (13/4/2026).
Safaruddin menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak yatim dan kaum duafa. Ia menyebut, perhatian terhadap warga kurang mampu merupakan bagian dari tanggung jawab moral pemerintah daerah.
Menurut dia, kehadiran pemerintah harus dirasakan langsung oleh masyarakat yang membutuhkan. Hal itu juga menjadi bagian dari amanah yang diemban sebagai kepala daerah.
“Anak-anak yatim tidak boleh merasa sendiri, kaum duafa tidak boleh terabaikan, termasuk Ibuk Nurlaila,” ucap Safaruddin.
Selama ini, lanjut Safaruddin, pemerintah daerah terus mendorong berbagai program bantuan sosial, termasuk santunan serta pembangunan dan rehabilitasi rumah layak huni.
Program tersebut diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Ia memastikan dinas terkait akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Hasil verifikasi akan menjadi dasar penyaluran bantuan.
“Nanti Dinsos dan Baitul Mal akan mengecek langsung kondisi rumah dan keadaan Ibuk Nurlaila. Kita sebagai pemerintah akan memberikan perhatian terhadap mereka,” ucap Safaruddin.
Selain itu, Safaruddin juga meminta para keuchik dan perangkat gampong untuk aktif melaporkan kondisi warga di wilayah masing-masing. Terutama bagi masyarakat yang masih tinggal di rumah tidak layak huni.
“Laporkan segera ke pemerintah daerah. Kita ingin pastikan selama lima tahun ini tidak ada lagi warga Abdya yang tinggal di rumah tidak layak huni,” pungkas Safaruddin.
Sebelumnya diberitakan, Nurlaila harus menjalani hidup sebagai tulang punggung keluarga setelah suaminya, Yusman (45), meninggal dunia saat melaut.
Peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda sakit sebelumnya. Sejak saat itu, ia harus mengurus tiga anaknya seorang diri. Kondisi ekonomi keluarga pun semakin sulit karena tidak memiliki penghasilan tetap.
“Suami saya meninggal tiba-tiba di laut, tanpa sakit sebelumnya,” kata Nurlaila, Senin (13/4/2026) di rumahnya.
Nurlaila menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Kamis, 9 April 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. Seperti hari-hari sebelumnya, Yusman pergi melaut untuk mencari nafkah bagi keluarga. Namun, ia tidak pernah kembali, meninggalkan duka mendalam bagi istri dan anak-anaknya. Kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga kecil itu.
Kini, Nurlaila tinggal bersama ketiga anaknya di rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan. Rumah beratapkan seng itu memiliki lantai semen kasar dan dinding papan yang mulai rapuh.
Bangunan tersebut berdiri di atas tanah milik orang tua Nurlaila, bukan milik pribadi. Kondisi tersebut semakin memperberat beban hidup yang harus ditanggung.
“Saya berharap ada pekerjaan tetap ke depan, supaya bisa menafkahi anak-anak saya,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan, Nurlaila mengaku belum dapat bekerja karena harus mengurus anak bungsunya yang masih kecil. Kesehariannya dihabiskan di rumah sambil bergantung pada bantuan keluarga dan tetangga. Ia berharap ada perhatian dan solusi agar dapat bertahan dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
“Hari-hari saya hanya diisi dengan mengurus anak dan bergantung pada bantuan keluarga dan tetangga,” kata Laila. (*)

Tinggalkan Balasan