Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Daerah

Forkopimda Abdya Diminta Kembalikan Tradisi Meugang ke Pante Krueng Beukah

247
×

Forkopimda Abdya Diminta Kembalikan Tradisi Meugang ke Pante Krueng Beukah

Sebarkan artikel ini
Keuchik Gampong Keude Siblah, T Rinaldy.

Blangpidie, Acehglobal – Keuchik Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya), T Rinaldy, meminta Forkopimda Abdya untuk mengembalikan lokasi tradisi meugang ke bantaran sungai Pante Krueng Beukah di gampong tersebut.

Permintaan ini disampaikan Rinaldy usai menerima laporan dan keluhan masyarakat dalam audiensi dengan Tokoh Masyarakat dan Pemuda Gampong Keude Siblah pada Sabtu (9/3/2023).

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

“Hasil audiensi ini kami meminta Forkopimda Abdya menempatkan kembali titik meugang di lokasi Pante Krueng Beukah Keude Siblah seperti sedia kala,” ujar Rinaldy.

Baca Juga :   RKBI Minta Mendagri Perpanjang Masa Jabatan Pj Bupati Abdya Sampai 2024

Tradisi meugang merupakan adat istiadat masyarakat Aceh, khususnya di Abdya. Sebelumnya, tradisi ini dipusatkan di satu titik yaitu di Pante Krueng Beukah, Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, yang dahulunya dikenal sebagai Kuta Batee.

Namun, akibat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, pusat meugang di lokasi tersebut dihilangkan dan digantikan dengan jajakan daging di pinggir badan jalan yang semrawut dan tidak tertib.

“Pemerintahan Gampong Keude Siblah sangat keberatan dengan pelaksanaan pembelian daging meugang di depan lapangan Persada, Jl. At Taqwa dan Jalan Manyang selama 4 tahun terakhir ini,” ungkap Rinaldy.

Baca Juga :   Pemerintah Gampong Pisang Abdya Sosialisasi Efek Penggunaan Medsos bagi Anak

“Selain mengganggu kelancaran lalu lintas, terdapat pula sampah sisa kotoran hewan dan bau amis yang menyengat selama 15 hari setelah setiap meugang,” imbuhnya.

Menurut pria yang akrab disapa Ampoen Rinaldy ini, tradisi meugang sejak masa Pemerintahan Teuku Pang Chiek dan seterusnya Ampoen Teuku Raja Sabie, lokasi meugang ditetapkan di satu titik yaitu di Pante Krueng Beukah, Gampong Keude Siblah.

“Tidak ada alasan lagi untuk melaksanakan meugang di pinggir dan badan jalan seperti ini. Hal ini sangat mengganggu Ibu Kota Kabupaten. Kecamatan Manggeng dan daerah lain sudah mengembalikan pusat meugang di titik semula, jadi tidak ada alasan untuk tidak melakukannya di Abdya,” tegasnya.

Baca Juga :   Wabup Muslizar : Perpres Nomor 14 tentang Vaksinasi Wajib Diikuti

Rinaldy berharap Forkopimda Abdya dapat mempertimbangkan permintaan masyarakat dan mengembalikan tradisi meugang ke lokasi asalnya di Pante Krueng Beukah. Hal ini diharapkan dapat menjaga kelestarian tradisi dan budaya Aceh, serta menciptakan suasana meugang yang lebih tertib dan nyaman bagi masyarakat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *