Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Komunitas MenulisOpini

Keunikan Bahasa Aceh

548
×

Keunikan Bahasa Aceh

Sebarkan artikel ini
Hamdani, S.Pd adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe, Pemerhati bahasa dan sastra Aceh, dan Penulis Buku Bahasa Indatu Ureueng Aceh.

Oleh : Hamdani, S.Pd

Ciri-ciri bahasa secara umum ada 3, dan perlu diketahui oleh pengguna bahasa itu sendiri. Baik ciri bahasa daerah, bahasa nasional atau bahasa yang ada di dunia belahan manapun. Demikian juga ciri-ciri yang dimiliki oleh Bahasa Aceh sebagai salah satu corak bahasa daerah yang ada di nusantara.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketiga ciri-ciri bahasa tersebut adalah sebagai berikut : a) konvensional, artinya setiap pengguna dan penutur bahasa harus sepakat dan menyepakati bahwa itulah sebutan untuk sesuatu. Lalu diberi lakap atau merk.

Misalnya : benda empat kaki yang terbuat dari kayu dan memiliki tempat bersandar di sebut “kursi kayu”, karena ada juga yang berupa kursi besi. Semua masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Meuroke harus mengucapkan “kursi kayu”. Contoh lain : hewan laut yang lazim dijadikan menu dan lauk nasi disebut “ikan”.

Maka semua orang harus mengucapkan ikan, bukan lembu atau ayam. Itulah yang dimaksud konvensional. b) Universal adalah suatu bahasa harus memiliki ciri menyeluruh. Artinya suatu bahasa harus diketahui dan dipahami oleh semua orang dalam ruang lingkup yang luas dan umum. Demikian juga halnya Bahasa Indonesia harus diketahui oleh seluruh pemakainya.

Jika itu bahasa Aceh, maka harus diketahui oleh semua pengguna Bahasa Aceh secara umum. Bukan bahasa untuk kalangan tertentu, karena jika hanya dipahami oleh sebahagian orang saja itu disebut “sandi” atau “prokem” dalam konteks kebahasaan. c) Ciri yang terakhir dari bahasa adalah unik.

Setiap bahasa memiliki keunikan tersendiri baik dari segi morfologi, fonologi, maupun sintaksis. Ciri bahasa yang terakhir inilah yang akan menjadi kajian dan pembahasan utama dalam tulisan ini.

Keunikan Bahasa Indonesia antara lain untuk hitungan bagi jenis hewan ternak selalu disebut “ekor” walaupun hitungan untuk hewan yang tak berekor atau hewan yang ekornya sudah putus. Misalnya : Dua ekor sapi saya, telah putus ekornya tadi malam di jambret maling, atau “Kami telah menangkap dua ekor harimau tadi pagi”, kata kepala pawang penjinak harimau liar.

Padahal mereka menangkap pada bagian lehernya, lalu diborgol. Berbeda dengan Bahasa Inggris untuk hitungan ekor memakai kata head (kepala). Misalnya : telah kami tangkap satu kepala harimau. Dalam konteks kalimat tersebut hitungan diwakili olek frasa (a head tiger) artinya satu kepala (ekor) harimau.

Lebih unik lagi dalam kasus hitungan dalam Bahasa Aceh. Untuk hitungan ekor dan kepala disebut dengan “boh” (maaf). Misalnya : Saboh rimueng ka kamo drop, artinya satu ekor harimau telah kami tangkap. Itulah hebatnya orang Aceh mampu menangkap harimau dengan menerkam dan memegang pada berbagai posisi.

Baca Juga :   Perlukah Budaya Diskusi di Warung Kopi?

Hitungan jumlah dan aneka sebutan buah (boh) dalam Bahasa Aceh. Uniknya lagi semua hitungan dalam bahasa Aceh diwakili oleh kata “boh” yang secara umum dipahami sebagai kata buah dalam Bahasa Indonesia. Contoh : Saboh manok, artinya seekor ayam. Saboh boh manok, artinya satu buah telur ayam. Boh manok, artinya telur ayam.

Sedangkan dalam Bahasa Indonesia telur ayam tidak disebut buah ayam. Telur dalam Bahasa Aceh Tidak ada kata khusus. Hanya ada kata : boh itek (telur bebek) dan boh manok (telur ayam). Selain itu, semua jenis yang agak lonjong dan bundar dalam Bahasa Aceh disebut buah (boh). Sekalipun itu berupa bagian dari fisik manusia. Contoh : boh idong (hidung) dan boh mieng (pipi).

Demikian juga untuk jenis buah-buahan dalam Bahasa Aceh di sebut boh. Misalnya : boh mamplam = buah mangga, boh u = buah kelapa, dan boh jambee = buah jambu. Bahkan untuk jenis makanan dari tepung ada juga yang disebut “boh”. Contoh : boh romrom (onde-onde). Dalam Bahasa Aceh untuk buah yang berasal dari akar tanaman ada juga yang disebut boh, seperti : boh ubi (ubi), dan boh keupila (ketela).

Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa dalam Bahasa Aceh ada beberapa jenis buah (boh) yaitu : 1) buah untuk hitungan atau jumlah (saboh = satu buah atau untuk hitungan per ekor). 2) buah untuk menyatakan jenis kelamin laki-laki (maaf kurang sopan, hanya bertujuan untuk kepentingan penelitian bahasa semata-mata).

Lebih unik lagi dalam Bahasa Aceh untuk jenis binatang betina (perempuan) juga disebut boh untuk hitungan. Misalnya : Saboh kameng inoeng, artinya satu kambing betina. 3) buah untuk sebutan sesuatu yang agak bundar atau lonjong. Misalnya : boh idong (hidung) dan boh mieng (pipi). 4) buah untuk sebutan bagi buah-buahan. Misalnya : boh timon (mentimun), boh panah (nangka). 5) buah untuk menyebutkan jenis kue. Misalnya : boh rom-rom (onde-onde) dan boh lu (bolu).

Kecuali untuk hitungan jenis daun, pohon, dan biji-bijian, Safriandi (2010) menjelaskan sebagai berikut:
1. Untuk daun dihitung dengan sebutan si on = satu daun.
2. Untuk cabang pohon dihitung dengan sebutan si krek atau si bak = sebatang untuk menghitung batang pohon.
3. Untuk biji-bijian seperti padi biasanya menggunakan kata hitungan si are = satu bambu, si naleeh = 15 bambu lebih kurang, dan si gunca.

Nama-Nama Penyakit Bisul dalam Bahasa Aceh

Keunikan lainnya yang dimiliki oleh Bahasa Aceh adalah untuk jenis penyakit bisul memiliki anekaragam nama tergantung dimana posisi tumbuhnya bisul tersebut. Jika posisi bisul di pantat atau pinggul itu disebut tumuet (bisul umum atau bisul yang sebenarnya), jika posisi bisul di kepala diberi nama peuracuet, jika bisul itu tumbuh di ketiak maka disebut bireeng, bila letak bisul pada bagian kelopak mata namanya geuluntie, yang terakhir, seandainya bisul itu tumbuh di ujung jari disebut cut. Ingat !, cut yang berupa bisul bukanlah marga keturunan bangsawan dalam masyarakat Aceh.

Baca Juga :   Daftar 13 Tokoh Ilmuwan Islam di Dunia dan Karyanya

Mengingat jenis penyakit cut (bisul) yang tumbuh di jari, baik di jari laki-laki maupun perempuan sebutannya sama. Sedangkan gelar bangsawan Aceh untuk perempuan dan laki-laki beda. Gelar darah biru untuk wanita Aceh di sebut “Cut” dan untuk kaum laki-laki disebut “Teuku atau Ampon”. Unik sekali Bahasa Aceh bukan ?

Aneka Nama Bau Tidak Sedap Dalam Bahasa Aceh

Selain keunikan-keunikan yang telah saya bahas terdahulu, dalam Bahasa Aceh juga memiliki keanekaragaman nama bau tidak sedap tergantung kondisi dan sifat bau. Maka dalam Bahasa Aceh dikenal bermacam-macam bau tidak sedap. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang hanya memiliki kata bau amis, bau tak sedap, dan bau selokan.

Nama bau dalam Bahasa Indonesia tidak begitu komplit. Sedangkan nama bau tidak sedap dalam Bahasa Aceh lebih komplit dan beragam. Nama-nama bau tidak sedap dalam Bahasa Aceh adalah sebagai berikut : a) be khep (bau tak sedap secara umum). Semua bau yang dicium indera pencium yang tidak sedap baunya dalam Bahasa Aceh disebut “be khep”, b) be khieng (bau bangkai atau bau hajat manusia/beol), c) be phong (bau kain basah yang dijemur dan tidak kering satu hari, karena cuaca mendung). d) be hanggui (bau gapah hewan ), be hanyie (bau ikan atau bau amis), e) be khoeh (bau kambing jantan atau bau orang yang malas mandi), f) be khop (bau ikan atau daging yang dijemur, namun belum kering, atau bau ikan dan daging yang hampir membusuk), g) be banga (bau air yang dibakar terik mata hari), dan h) be meuhoeng (bau sesuatu yang pahit atau bau daki).

Selanjutnya, ada sisi lain keunikan Bahasa Aceh yaitu semua kata dalam Bahasa Aceh tidak ada yang berakhir dengan huruf (s) dan huruf (l). Misalnya : kata (es), orang Aceh menyebutnya (eh), (testing) dalam Bahasa Aceh (tehting), (kapal) bahasa Acehnya (kapai), dan (pecal = pecai).

Lain dari itu, Bahasa Aceh juga memiliki konjungsi atau kata depan yang memiliki arti homonim. Misalnya : kata “bak” memiliki dua pengertian, yang satu berfungsi sebagai kata depan (konjungsi) dan satu lagi berarti pohon. Contoh kata “bak” dalam Bahasa Aceh atau “di” dalam Bahasa Indonesia sebagai kata depan : bak keudee = di kedai, bak rame-rame = di keramaian, bak kanto = di kantor, dan bak pasai = di pasar. Contoh kata “bak” sebagai pohon : bak kayee = pohon kayu, bak pisang = pohon pisang, dan bak labu = pohon labu.

Baca Juga :   Kenapa Semestinya Konser Musik di Aceh Dilarang?

Vokal Rangkap dan Anomatopea (tiruan bunyi) dalam Bahasa Aceh

Secara umum keunikan, dan merupakan ciri khas Bahasa Aceh adalah memiliki huruf vokal rangkap seperti : ie, oe, ue, dan ui. Contoh kata : ie (air), baroe (kemarin), pijuet (kurus), dan apui (api). Huruf vokal rangkap dalam bahasa Aceh lebih dominan didapatkan dibandingkan dengan bahasa lainnya. Dalam Bahasa Aceh juga mengandung unsur anomatopea (tiruan bunyi).

Misalnya : tittiet dan poppoop (suara klakson mobil), tamtuem, damgeudum dan buembuem (suara letusan senjata dan suara bom) , kramkruem (suara patah sesuatu), pampuem dan pampam (suara tinju, pukulan atau tamparan), teptep dan cepcrop (suara tetesan air, dll), cepcop (suara mulut orang yang sedang makan), dan kukuuek…uek, mbeek (suara kokok ayam dan suara kambing).

Mengenai anomatopea saya hanya memaparkan beberapa contoh dalam kalimat yaitu : 1) kata tittiet dalam kalimat. Jino laju tanyo beurangkat moto i lua kaji tittiet, artinya Sekarang juga kita berangkat mobil di luar sudah dibunyikan klaksonnya (pertanda isyarat memanggil untuk segera berangkat), 2) kata tamtuem dalam kalimat. Malam baro na tamtuem aleh pat ?, artinya Malam kemarin ada suara letusan senjata entah dimana? Anomatopea (tiruan bunyi) dalam Bahasa Aceh merupakan kata tunggal murni dan merupakan kata dalam jenis morfem segmental dan merupakan bentuk bebas.

Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri tanpa dilekatkan (digabungkan) dengan kata lain maupun dengan imbuhan lain, tetapi tetap memiliki makna.

Selain keunikan-keunikan di atas, Bahasa Aceh juga memiliki tanda diakrikit (tanda baca atau baris di atas) untuk memudahkan dalam pembacaan. Maka jangan heran jika ada orang yang tidak paham Bahasa Aceh mengira bahwa itu Bahasa Spanyol atau Bahasa Perancis, karena memiliki kemiripan dalam hal penggunaan diakritik.

Demikianlah tulisan singkat ini mengenai keunikan Bahasa Aceh semoga bermanfaat untuk para pembaca. Keunikan Bahasa Aceh dalam tulisan ini hanya saya paparkan secara gamblang dan sederhana, karena keterbatasan referensi. Untuk memudahkan mencari informasi sebagai rujukan tulisan ini saya melakukan langsung observasi dalam masyarakat pengguna Bahasa Aceh.

Masih banyak keunikan lain yang dimiliki Bahasa Aceh kiranya perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan. Dalam rangka pengembangan dan pelestarian bahasa daerah sebagai salah satu kekayaan budaya nasional yang patut kita bangggakan.
Untuk memahami lebih jelas dan mendalam mengenai Bahasa Aceh silakan anda baca buku Tata Bahasa Aceh karya Dr. Wildan, M.Pd.(*)

Penulis adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe, Pemerhati bahasa dan sastra Aceh, dan Penulis Buku Bahasa Indatu Ureueng Aceh.

Editor: Redaksi