Blangpidie – Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Aceh Barat Daya (Abdya) bersama PSC 119 Abdya membagikan sebanyak 1.000 masker kepada anak-anak sekolah sebagai wujud kepedulian di tengah kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Aceh, Sabtu (17/10/2026).

Aksi kemanusiaan tersebut dilaksanakan di dua lokasi, yakni MIN Muhammadiyah Blangpidie dan SD Negeri 1 Blangpidie.

Pembagian masker ini bertujuan melindungi anak-anak dari paparan kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.

Ketua aksi, Adi Khairi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kesehatan generasi muda. Anak-anak sekolah dinilai sangat rentan terhadap dampak buruk pencemaran udara.

“Pembagian 1.000 masker ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap anak-anak sekolah di tengah kondisi kabut asap. Kami ingin hadir dan membantu semampu kami agar anak-anak mendapatkan perlindungan saat beraktivitas,” ujar Adi Khairi.

ADVERTISEMENT

Ia menerangkan bahwa isu kabut asap bukan sekadar terganggunya aktivitas harian masyarakat, melainkan menyangkut kesehatan dan keselamatan jiwa. Paparan asap berisiko menyebabkan iritasi mata, batuk, hingga gangguan pernapasan akut bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Pembagian masker ini, kata Adi, tidak berhenti di dua lokasi tersebut, namun akan terus berlanjut ke sekolah-sekolah serta titik lokasi lainnya sesuai kebutuhan dan kemampuan para relawan di lapangan.

ADVERTISEMENT

“Kami berharap gerakan ini dapat menggerakkan lebih banyak pihak untuk saling membantu. Kita tidak boleh menunggu sampai anak-anak jatuh sakit untuk menunjukkan kepedulian. Keselamatan mereka harus menjadi perhatian kita bersama,” ungkap Adi.

Selain menyalurkan bantuan masker, Adi Khairi turut mengingatkan pentingnya langkah konkret dan terukur dari pihak pemerintah. Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi pemicu utama kabut asap harus dilakukan secara serius.

Jika kualitas udara kian memburuk, pemerintah disarankan mempertimbangkan kebijakan khusus untuk melindungi masyarakat. Salah satunya adalah menerapkan pembelajaran daring berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara dan rekomendasi pihak berwenang.

Opsi pembelajaran jarak jauh tersebut dinilai sebagai bentuk perlindungan proaktif bagi keselamatan kesehatan anak-anak. Langkah ini tidak berarti menyerah pada situasi, melainkan penegakan kewaspadaan.

ADVERTISEMENT

“Kita boleh bersabar menghadapi keadaan, tetapi penanganan tidak boleh kehilangan keseriusan. Masyarakat membutuhkan udara bersih, lingkungan yang aman, dan kepastian bahwa kesehatan mereka menjadi perhatian,” tegasnya.

Adi juga mengajak seluruh elemen masyarakat, komunitas, serta pemangku kepentingan untuk memperkuat kepedulian dan mendukung langkah penanganan kabut asap secara terpadu.

Relawan TIK Abdya dan PSC 119 turut mengimbau warga agar aktif memantau informasi resmi kualitas udara. Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan jika kondisi memburuk serta segera mengakses layanan medis apabila mengalami sesak napas.

Lewat gerakan ini, semangat gotong royong diharapkan terus menguat sehingga anak-anak tetap mendapatkan perhatian dan perlindungan optimal selama situasi kabut asap berlangsung.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk saling membantu dan saling menjaga. Semoga kabut asap segera berlalu, udara kembali bersih, dan anak-anak kita dapat belajar serta bermain dengan aman,” pungkas Adi Khairi. (*)

Editor: Fakhrul Razi
Penulis: Salman Sy