Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Nasional

Sekum Muhammadiyah: Idul Fitri Diprediksi Sama, Sidang Isbat Tak Perlu Digelar

239
×

Sekum Muhammadiyah: Idul Fitri Diprediksi Sama, Sidang Isbat Tak Perlu Digelar

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu'ti saat menyampaikan ceramah dalam acara Tarhib Ramadan. (Foto: kumparan).

Jepara, Acehglobal — Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1445 Hijriah jatuh pada Senin, 11 Maret 2024. Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriah pun ditetapkan pada Rabu, 10 April 2024.

Penetapan awal puasa Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah yang baru akan menggelar sidang isbat pada 10 Maret. Namun, untuk Idul Fitri, Muhammadiyah memprediksi tanggalnya akan sama dengan pemerintah.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti pun mengusulkan agar sidang isbat penetapan Idul Fitri tahun ini ditiadakan. Alasannya, posisi hilal saat akhir Ramadan sudah di atas 8 derajat, sehingga bisa dilihat jelas.

Baca Juga :   Hasil Sidang Isbat, Kemenag Tetapkan 1 Ramadhan Jatuh pada Minggu 3 April 2022

“Insya Allah Idul Fitri akan bareng. Posisi hilal saat akhir Ramadan sudah di atas 8 derajat. Dengan posisi seperti itu, hilal sudah bisa dilihat jelas. Jadi tidak perlu sidang isbat, sehingga bisa hemat anggaran,” kata Mu’ti saat menyampaikan ceramah dalam acara Tarhib Ramadan dan Milad ke-3 Masjid Al Birru di Desa Mindahan Kidul, Batealit, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (3/3/2024).

Mu’ti menjelaskan, selama ini penetapan Idul Fitri kerap berbeda antara metode hisab dan ru’yatul hilal. Muhammadiyah menggunakan hisab haqiqi, sedangkan pemerintah menggunakan ru’yatul hilal.

“Kalau posisi hilal di atas 8 derajat, pasti semua ormas Islam akan sama dalam menentukan Idul Fitri,” kata dia.

Mu’ti pun menyinggung sejarah penetapan Idul Fitri yang dinamis. Dulu, hilal dikatakan bisa dilihat dengan mata telanjang jika di atas 2 derajat. Kemudian, ketentuan itu diubah menjadi di atas 4 derajat, dan terakhir di atas 6 derajat.

Baca Juga :   Mendagri Tekankan 7 Strategi Penanggulangan Covid-19 saat Libur Nataru

“Kalau ditetapkan hilal bisa dilihat di atas 4 derajat atau 6 derajat, maka akan lebih banyak perbedaannya. Nah tahun ini, di akhir Ramadan, posisi hilal sudah di atas 8 derajat, jadi harusnya hilal sudah bisa dilihat, tidak perlu sidang isbat,” jelas Mu’ti.

Lebih lanjut, Mu’ti menegaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan hisab dalam menentukan puasa dan Idul Fitri sebagai bagian dari sunnah, bukan bid’ah. Dia pun mengutip ayat dan hadits yang mendukung penggunaan hisab.

“Dengan ilmu hisab, saat ini Muhammadiyah sudah menyusun kalender hingga 100 tahun ke depan,” kata Mu’ti.

Baca Juga :   Beda Awal Puasa, Pemerintah, Muhammadiyah dan NU Kompak Rayakan Idul Fitri 2 Mei 2022

“Jadi, hisab itu bukan bid’ah. Isyaratnya sudah ada di dalam Quran. Allah menciptakan matahari dan bulan itu agar umat mengetahui hitungan tahun dan hisab,” imbuhnya.

Mu’ti pun mengajak warga Muhammadiyah untuk melakukan gerakan sosial dengan berbagi kepada sesama di bulan Ramadan.

“Gerakan sharing, tapi bukan praktik karikatif, yang lebih banyak menonjolkan foto dan publikasi. Berbagi ini adalah investasi,” pinta dia.

Gerakan berbagi ini bisa meningkatkan pemberdayaan umat. “Berbagi tidak harus dengan memberikan santunan langsung tunai, tapi bisa juga dalam bentuk beasiswa, misalnya santunan tabungan anak-anak sekolah,” jelas Mu’ti.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *