Blangpidie – Tim Baitul Mal Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) turun langsung meninjau kondisi rumah Nurlaila, seorang janda dengan tiga anak yang tinggal di Dusun Alue Badeuk, Gampong Cot Mane, Kecamatan Jeumpa, Senin (13/4/2026) malam.

ADVERTISEMENT

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut atas instruksi Bupati Abdya, Safaruddin, yang meminta penanganan cepat terhadap warga kurang mampu.

Peninjauan lapangan dipimpin langsung oleh Ketua Baitul Mal Abdya, Tgk Syamsul Qamar, bersama Kepala Sekretariat Bustari dan tim. Turut hadir Keuchik Gampong Cot Mane, Amiruddin.

ADVERTISEMENT

“Pada malam ini, kami melihat secara langsung kondisi tempat tinggal ibu Nurlaila, serta kebutuhan mendesak yang dihadapi keluarganya,” ujar Ketua Baitul Mal Abdya, Tgk Syamsul Qamar.

Tgk Syamsul menambahkan, peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kelayakan dan bantuan yang diberikan tepat sasaran.

ADVERTISEMENT

“Peninjauan ini juga kita lakukan sebagai bagian dari verifikasi awal agar bantuan yang diberikan tepat sasaran,” katanya.

Sebelumnya, Bupati Abdya Safaruddin telah menginstruksikan Dinas Sosial (Dinsos) dan Baitul Mal agar segera merespons kondisi Nurlaila.

ADVERTISEMENT

Instruksi tersebut disampaikan setelah menerima laporan mengenai kondisi keluarga tersebut yang hidup dalam keterbatasan.

“Saya instruksikan kepada Dinsos dan Baitul Mal segera turun ke rumah Ibuk Nurlaila, pastikan mereka tidak terabaikan. Jika layak dibantu, segera diberikan bantuan,” kata Bupati Safaruddin, Senin (13/4/2026).

Safaruddin menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat, khususnya bagi anak yatim dan kaum duafa. Ia menyebut, perhatian terhadap kelompok rentan harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan sosial.

Menurutnya, kehadiran pemerintah harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Komitmen tersebut, kata dia, merupakan bagian dari amanah sebagai kepala daerah.

“Anak-anak yatim tidak boleh merasa sendiri, kaum duafa tidak boleh terabaikan, termasuk Ibuk Nurlaila,” ucap Safaruddin.

Ia menambahkan, selama ini pemerintah daerah terus mendorong berbagai program bantuan sosial, termasuk santunan serta pembangunan dan rehabilitasi rumah layak huni.

“Nanti Dinsos dan Baitul Mal akan mengecek langsung kondisi rumah dan keadaan Ibuk Nurlaila. Kita sebagai pemerintah akan memberikan perhatian terhadap mereka,” ucap Safaruddin.

Diketahui, Nurlaila saat ini tinggal bersama tiga anaknya di rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan. Rumah tersebut beratapkan seng, berdinding papan yang mulai lapuk, serta berlantaikan semen kasar. Bangunan itu berdiri di atas tanah milik orang tuanya. Kondisi tersebut membuat kehidupan sehari-hari keluarga ini semakin berat.

Sejak suaminya, Yusman (45), meninggal dunia saat melaut, beban hidup sepenuhnya ditanggung oleh Nurlaila. Ia kini menjadi satu-satunya penopang bagi ketiga anaknya yang masih kecil.

Tanpa pekerjaan tetap, kebutuhan sehari-hari menjadi persoalan yang terus menghimpit. Untuk memenuhi kebutuhan makan, ia masih bergantung pada bantuan keluarga dan lingkungan sekitar.

“Suami saya meninggal tiba-tiba di laut, tanpa sakit sebelumnya,” kata Nurlaila, Senin (13/4/2026) di rumahnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 9 April 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. Seperti biasa, Yusman pergi melaut untuk mencari nafkah. Namun, ia tidak pernah kembali, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan, justru menjadi tempat perpisahan terakhir bagi mereka.

Kepergian Yusman meninggalkan tiga anak yang masih membutuhkan perhatian dan biaya pendidikan. Anak sulung duduk di kelas II sekolah dasar, sementara anak kedua masih di taman kanak-kanak. Bahkan, anak bungsu belum sepenuhnya mengenal sosok ayahnya. Kondisi ini semakin memperberat beban psikologis dan ekonomi keluarga.

Selain itu, rumah yang ditinggalkan juga berada dalam kondisi tidak layak huni. Struktur bangunan yang sederhana dan mulai rapuh membuat keluarga tersebut hidup dalam keterbatasan. Di tengah kondisi tersebut, Nurlaila harus memenuhi kebutuhan dasar tanpa sumber penghasilan tetap.

“Saya berharap ada pekerjaan tetap ke depan, supaya bisa menafkahi anak-anak saya,” ujarnya.

Namun, harapan tersebut belum dapat terwujud dalam waktu dekat. Kehadiran bayi yang masih kecil membuatnya belum memungkinkan bekerja di luar rumah. Aktivitas sehari-hari lebih banyak dihabiskan untuk mengurus anak-anak.

“Hari-hari saya hanya diisi dengan mengurus anak dan bergantung pada bantuan keluarga dan tetangga,” kata Laila. (*)

Editor: Tim Redaksi