Oleh: Tanzilul Authar, S.Pd., M.Pd
Dosen Pendidikan Agama Islam, STIT Muhammadiyah Aceh Barat Daya

ADVERTISEMENT

Hari ini, Aceh Barat Daya (Abdya) genap berusia 24 tahun. Sebuah usia yang tidak lagi muda, namun juga belum sepenuhnya matang. Ia ibarat seorang insan yang sedang menata langkah; menimbang masa lalu, memperbaiki hari ini, dan menentukan arah masa depan.

Dua puluh empat tahun bukan sekadar angka. Ia adalah himpunan dari harapan, perjuangan, doa, dan juga kegelisahan yang kadang tak terucap. Banyak yang telah dicapai, namun satu pertanyaan penting masih menggema, sudahkah keberkahan benar-benar menaungi negeri ini?

ADVERTISEMENT

Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 96, bahwa jika suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya akan dibukakan keberkahan dari langit dan bumi. Ini bukan sekadar janji spiritual, tetapi prinsip kehidupan. Bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kualitas iman dan ketakwaan penghuninya.

Di titik ini, Abdya perlu berhenti sejenak! Bukan untuk diam, tetapi untuk bercermin. Sudahkah kita menjaga nilai kejujuran dalam amanah? Sudahkah keadilan hidup dalam kebijakan? Sudahkah masyarakat menumbuhkan kesalehan sosial, bukan sekadar kesalehan ritual? Ataukah kita masih terjebak dalam rutinitas yang menjauhkan diri dari sumber keberkahan itu sendiri?

ADVERTISEMENT

Kini, jargon “Arah Baru Abdya Maju” menggema di ruang-ruang publik. Namun ia tidak boleh berhenti sebagai slogan lisani semata. Ia harus menjadi manifestasi qalbu, hidup dalam kesadaran, mengalir dalam tindakan, dan terpatri dalam kebijakan. Sebab arah baru tidak akan pernah lahir dari kata-kata, melainkan dari perubahan hati yang lahirkan perubahan sikap.

Lebih dari itu, Abdya telah memulai langkah melalui program “Peukong Agama” Sebuah ikhtiar untuk meneguhkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah fondasi penting, sebab kemajuan akan roboh bila kekuatan ruhani tak kokoh. Namun, kita juga harus jujur bertanya! Apakah program ini sudah hidup dalam perilaku kita? Sudahkah ia hadir dalam kejujuran transaksi, dalam keadilan keputusan, dalam kesederhanaan hidup, dan dalam rasa takut kepada Allah?

ADVERTISEMENT

Di sinilah pentingnya peran kita semua, termasuk dalam menyikapi kepemimpinan. Mari kita dukung pemimpin kita! Bukan dengan kepentingan, bukan dengan siasat yang penuh “bulus”, tetapi dengan ikhlas dan tulus.

Dukungan yang lahir dari hati yang bersih akan melahirkan kebijakan yang jernih. Sebaliknya, dukungan yang sarat kepentingan hanya akan melahirkan arah yang kabur dan tujuan yang bertabur.

Mendukung pemimpin dengan tulus bukan berarti membenarkan semua hal, tetapi menguatkan yang benar, mengingatkan dengan adab, dan bersama-sama menjaga amanah. Sebab pemimpin yang kuat adalah cerminan masyarakat yang jujur dalam dukungannya, bukan yang lihai dalam kepentingannya.

Arah Baru Abdya Maju dan Peukong Agama sejatinya adalah dua jalan yang bertemu pada satu tujuan guna menghadirkan keberkahan. Yang satu membangun lahir, yang lain menguatkan batin. Jika keduanya berjalan seiring seirama, antara kerja nyata dan kesadaran iman. Maka Abdya tidak hanya akan maju, tetapi juga dimuliakan.

Refleksi ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan. Bahwa bumi Abdya akan memberi sesuai dengan apa yang kita tanam. Jika yang kita tanam adalah keikhlasan, keadilan, dan ketakwaan, maka ia akan memuntahkan keberkahannya. Namun jika yang tumbuh adalah kelalaian dan kepentingan sempit, maka keberkahan itu akan menjauh perlahan.

Di usia ke-24 ini, Abdya tidak hanya butuh pembangunan, tetapi juga kebangkitan ruhani. Sebuah kesadaran kolektif bahwa keberkahan adalah hasil dari hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia. Kemajuan sejati adalah ketika masyarakatnya tidak hanya hidup layak, tetapi juga hidup dalam ridha-Nya.
Selamat Milad ke-24 untuk Abdyaku.

Semoga Arah Baru Abdya Maju benar-benar lahir dari hati, bukan sekadar terucap di bibir. Semoga Peukong Agama bukan hanya program, tetapi menjadi jalan hidup. Dan semoga kita mampu mendukung pemimpin dengan ikhlas dan tulus, bukan karena kepentingan, tetapi karena tanggung jawab iman. Tujuan akhirnya adalah agar Allah menurunkan nikmat dari langit dan mengeluarkan keberkahan dari bumi karena iman dan takwa yang tumbuh di negeri breuh sigupai tercinta ini.***

Editor: Salman