Hal itu menurut Trump menjadi bukti keberhasilan kepemimpinannya di panggung global. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari narasi politik yang ia bangun.
“Dia berkata, Anda tahu, ini luar biasa … setahun yang lalu, Anda adalah negara yang mati. Sekarang, Anda benar-benar negara paling panas di mana pun di dunia,” kenang Trump.
Meski sempat melontarkan ejekan, Trump kemudian memberikan pujian kepada MBS. Ia menyebut Putra Mahkota sebagai “seorang pria yang luar biasa” dan “seorang pejuang”.
Trump juga menambahkan bahwa Arab Saudi merasa bangga atas kepemimpinannya.
Pernyataan Trump muncul di tengah situasi kawasan yang semakin memanas akibat konflik dengan Iran. Sejak 28 Februari, operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah menargetkan fasilitas militer dan nuklir Teheran.
Iran merespons dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Eskalasi ini memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa negara-negara Teluk berada di pihak Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Ia menyebut sejumlah negara secara eksplisit sebagai mitra aktif dalam menghadapi Iran.
Pernyataan ini sekaligus menunjukkan klaim solidaritas militer di kawasan. Namun, sikap itu tidak sepenuhnya tercermin dalam pernyataan resmi negara-negara terkait.
“Arab Saudi bertempur, Qatar bertempur, UEA bertempur, Bahrain bertempur, dan Kuwait bertempur,” katanya.
Dia menambahkan bahwa mereka “bersama kita … mereka bersama kita”. Meski demikian, secara terbuka negara-negara Teluk cenderung berhati-hati dalam menyikapi konflik tersebut. Mereka khawatir terhadap potensi serangan balasan Iran dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi, terutama sektor energi.
Di sisi lain, Trump juga melontarkan kritik keras terhadap sekutu tradisional Amerika Serikat di Eropa. Ia menilai NATO tidak memberikan dukungan yang cukup dalam konflik terbaru ini.
Kritik tersebut mempertegas ketegangan hubungan antara Washington dan aliansi Barat. Trump membandingkan kontribusi NATO dengan negara-negara Teluk yang dianggap lebih aktif.

Tinggalkan Balasan