Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Opini

Inklusi Gender Mendorong Perubahan Dalam Dunia Politik

452
×

Inklusi Gender Mendorong Perubahan Dalam Dunia Politik

Sebarkan artikel ini
Kurratal A’yun adalah Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Foto: Acehglobal/Istimewa.

Oleh: Kurratal A’yun

Di era modern pada saat ini dalam politik peran gender menjadi semakin penting dan menjadi fokus global. Tujuannya tidak hanya untuk mencapai kesetaraan gender, tetapi juga untuk memastikan bahwa suara dan kepentingan semua warga negara terwakili secara adil dan proporsional di arena politik. Tanpa memandang jenis kelamin, ini merupakan prinsip dasar demokrasi yang sehat.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Inklusi gender merupakan kekuatan pendorong di balik perubahan kebijakan yang signifikan dan tren ini menjadi lebih umum. Di banyak negara, terutama di bagian dunia yang lebih maju, perempuan semakin aktif dalam politik. Mereka menjadi penting tidak hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai kandidat dan pemimpin politik yang berpengaruh.

Keterlibatan perempuan dalam politik memiliki banyak keuntungan. Pertama, perempuan membawa perspektif unik dan beragam pengalaman hidup yang dapat membantu membentuk kebijakan yang lebih inklusif dan beragam. Representasi yang setara juga dapat memastikan bahwa kepentingan dan kebutuhan semua warga negara, termasuk perempuan, terwakili dengan baik dalam pengambilan keputusan politik.

Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya perempuan menduduki jabatan tinggi pemerintahan seperti kepala negara, menteri, dan anggota parlemen. Kehadiran mereka memungkinkan adanya perbedaan perspektif dalam proses pengambilan keputusan politik dan memperkaya representasi politik secara keseluruhan.

Dengan meningkatnya partisipasi perempuan, isu-isu terkait gender dan kesetaraan juga mendapat perhatian lebih dalam agenda politik. Penghapusan kekerasan terhadap perempuan, kesetaraan upah untuk pekerjaan yang setara, peningkatan kesehatan reproduksi dan peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi merupakan isu penting yang diperjuangkan para pemimpin perempuan di dunia politik. Para pemimpin politik perempuan dapat berbicara lebih keras dan lebih kuat tentang isu-isu ini.

Baca Juga :   Peran Pemuda sebagai Agent Of Change

Berikut adalah beberapa tokoh perempuan yang patut mendapat perhatian dalam perjalanan transisi gender dalam politik Indonesia pada saat ini:

1. Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri adalah tokoh politik senior dan Presiden kelima Indonesia. Sebagai Presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ia memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perjuangan hak-hak perempuan dan mendorong kebijakan yang mendukung kesejahteraan rakyat.

Keterlibatannya yang kuat dalam politik menginspirasi banyak perempuan Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan politik.

2. Susi Pudjiastuti

Susi Pudjiastuti adalah pengusaha sukses dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia. Selama masa jabatannya, ia dikenal dengan usahanya yang gigih dalam memberantas praktik illegal fishing dan melindungi sumber daya laut Indonesia.

Keberaniannya untuk membuat keputusan sulit dan menantang stereotip gender telah menginspirasi banyak perempuan untuk terlibat dalam politik dan berjuang demi lingkungan.

3. Sri Mulyani Indrawati

Sri Mulyani Indrawati adalah Menteri Keuangan Indonesia yang mendapat pengakuan internasional atas kepemimpinannya yang kuat dan kebijakan ekonomi yang berhasil. Kontribusi mereka dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menutup kesenjangan gender dalam pembangunan ekonomi telah menginspirasi banyak perempuan untuk berperan aktif dalam politik dan bisnis.

Keberadaan tokoh-tokoh perempuan tersebut dalam perpolitikan Indonesia menjadi bukti nyata bahwa perempuan dapat berperan penting dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk masa depan negara. Namun, masih banyak yang harus dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender dalam politik.

Melalui perjuangan dan inspirasi para tokoh tersebut, diharapkan semakin banyak perempuan yang terinspirasi untuk terjun ke dunia politik dan membawa perubahan positif bagi masyarakat Indonesia.

Ringkasnya, tokoh perempuan Indonesia seperti Megawati Soekarnoputri, Susi Pudjiastuti dan Sri Mulyani Indrawati menjadi contoh dan menginspirasi perempuan lain untuk terjun ke dunia politik dan memperjuangkan hak-haknya.

Baca Juga :   Apakah Kata "Perdamaian" Bisa Menghidupkan Kembali Jiwa Yang Mati?

Melalui perannya mereka menunjukkan bahwa gender bukanlah penghalang untuk mencapai posisi penting dalam politik dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan negara. Namun, upaya untuk memasukkan gender dalam politik masih menghadapi tantangan.

Di beberapa negara termasuk Indonesia sendiri masih terdapat kesenjangan gender yang signifikan dalam partisipasi politik. Beberapa contoh diskriminasi gender dalam politik adalah:

Pertama, ketidakadilan dalam representasi politik, ada ketimpangan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam posisi politik. Misalnya, perempuan seringkali kurang terwakili dalam sistem pemilu di parlemen atau eksekutif. Hal ini dapat disebabkan oleh norma-norma sosial yang membatasi partisipasi perempuan dalam politik, atau keterbatasan struktural dari sistem politik.

Kedua, stereotip dan persepsi negatif, dalam politik, perempuan seringkali dihadapkan pada stereotip dan gagasan negatif yang dapat menghambat kemajuan mereka. Karena jenis kelamin mereka, mereka mungkin terlihat kurang kompeten, kurang percaya diri, atau kurang mampu membuat keputusan yang sulit.

Ketiga, Pelecehan dan Kekerasan Politisi, perempuan rentan terhadap berbagai bentuk pelecehan dan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Ini termasuk ancaman, pelecehan seksual atau penyebaran informasi pribadi yang berbahaya untuk membatasi partisipasi politik perempuan atau untuk membungkam suara mereka.

Keempat, akses terbatas ke sumber daya politik, perempuan sering kali menghadapi kendala dalam mengakses sumber daya politik yang diperlukan untuk berpartisipasi secara efektif dalam politik. Ini termasuk akses terbatas ke dana kampanye, jaringan politik yang kuat, dan sumber daya informasi yang relevan.

Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah konkrit, seperti mengesahkan undang-undang untuk mendukung kuota perempuan, pelatihan administrasi, dan perubahan budaya untuk mempromosikan kesetaraan gender.

Para ahli percaya bahwa pengarusutamaan gender tidak hanya tentang memberikan kesempatan yang adil bagi perempuan, tetapi juga tentang penguatan demokrasi itu sendiri. Karena, keragaman representasi politik, kebijakan yang lebih inklusif dan beragam dapat dikembangkan yang mencerminkan berbagai kepentingan dan kebutuhan yang mencerminkan masyarakat yang heterogen.

Baca Juga :   Mendengar atau Berbicara?

Dalam konteks global, gerakan pengarusutamaan gender telah menjadi prioritas dalam politik. Organisasi internasional seperti PBB dan berbagai kelompok advokasi berkomitmen untuk mempromosikan kesetaraan gender dalam politik di seluruh dunia.

Pemerintah, partai politik, dan masyarakat secara keseluruhan harus bekerja sama untuk mendorong partisipasi perempuan dalam politik dengan memberikan kesempatan yang sama, memperluas akses ke pendidikan kewarganegaraan dan kepemimpinan, serta menghilangkan hambatan yang menghalangi partisipasi perempuan dalam politik.

Dengan cara ini kita dapat mencapai kesetaraan gender yang lebih besar dan memanfaatkan seluruh potensi seluruh warga negara Indonesia untuk membangun masa depan yang lebih baik kedepannya. Untuk mewujudkan perubahan gender dalam politik, penting bagi kita semua untuk mengenali nilai-nilai kesetaraan dan keragaman.

Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi mereka yang ingin berpartisipasi dalam politik, kita dapat menciptakan sistem politik yang lebih inklusif, representatif, dan responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi seluruh rakyat Indonesia.

Perubahan gender dalam politik tidak hanya menawarkan peluang yang lebih baik bagi perempuan, tetapi juga mengarah pada politik yang lebih beragam dan mencerminkan masyarakat yang lebih inklusif. Dengan melanjutkan perjuangan ini, Indonesia dapat menjadi panutan bagi negara lain dalam mencapai kesetaraan gender dan membawa perubahan positif dalam politik untuk kepentingan seluruh warganya.***

Penulis adalah Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Tulisan ini adalah opini penulis.

Editor: Salman