Blangpidie – Khatib Jumat, Ustaz Nashrullah Hs SHI, M.Ag, mengajak jamaah menjadikan shalat sebagai fondasi utama kehidupan seorang muslim. Pesan itu disampaikannya saat khutbah Jumat di Masjid Agung Baitul Ghafur, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Jumat (23/1/2026).

ADVERTISEMENT

Ustaz Nashrullah yang merupakan Penyuluh Agama KUA Kecamatan Setia sekaligus Ketua Ikatan Dai Indonesia Kabupaten Abdya itu membuka khutbahnya dengan membacakan firman Allah SWT Al Qur’an Surah Al-Isra’ tentang peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Artinya : “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

ADVERTISEMENT

Dalam khutbahnya, Ustaz Nashrullah mengingatkan jamaah bahwa peringatan Isra Mi’raj yang baru saja dilalui bukan sekadar seremoni tahunan. Peristiwa tersebut, kata dia, memiliki keterkaitan langsung dengan perintah shalat yang menjadi pembeda utama antara seorang muslim dan orang kafir.

“Seminggu lalu kita baru saja memperingati Isra Mi’raj, yaitu sebuah peristiwa yang berurusan dengan keimanan dimana Allah memberangkatkan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil haram ke masjid Aqsa lalu dinaikkan ke langit ke tujuh Sidratul Muntaha dan turun membawa perintah Shalat,” ujarnya di hadapan jamaah.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, shalat memiliki kedudukan yang istimewa karena perintahnya tidak disampaikan melalui perantara wahyu biasa, melainkan Rasulullah SAW harus menjemputnya langsung ke langit. Hal ini berbeda dengan perintah ibadah wajib lainnya seperti puasa, zakat, dan haji.

Menurutnya, Isra Mi’raj seharusnya menjadi momentum evaluasi diri bagi setiap muslim tentang kualitas shalat yang dijalankan selama ini. Ia pun mengajukan pertanyaan reflektif kepada jamaah terkait posisi shalat dalam kehidupan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

“Lalu pertanyaan selanjutnya, apa kabar shalat kita?” ucapnya.

Ustaz Nashrullah menekankan agar shalat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban formal semata, tetapi benar-benar menjadi amal terbaik dalam kehidupan. Ia mengingatkan agar shalat tidak dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban, apalagi sampai menjadi ibadah yang kelak harus dipertanggungjawabkan oleh ahli waris ketika seseorang meninggal dunia.

Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk mengaitkan shalat dengan tanggung jawab menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Menurutnya, shalat yang benar seharusnya tercermin dalam kepedulian terhadap anggota keluarga agar sama-sama menegakkan ibadah.

Ia menyoroti kondisi ketika seseorang rajin shalat secara pribadi, namun abai terhadap shalat istri dan anak-anaknya, atau sebaliknya. Ustaz Nashrullah mengingatkan pentingnya memastikan seluruh anggota keluarga menjalankan shalat sebagai bagian dari komitmen keimanan.

Selain itu, shalat juga harus tercermin dalam perilaku bermuamalah sehari-hari. Ia menegaskan bahwa shalat yang baik akan mendorong seseorang bersikap jujur, adil, dan menjaga kehalalan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Adakah dalam bermuamalah kita menjalankan prinsip ‘antharadimminkum? Keridhaan antara pembeli dan penjual?” ujarnya.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak mencampuradukkan antara yang halal dan haram dalam mencari nafkah. Menurutnya, keberkahan hidup sangat bergantung pada kesesuaian antara ibadah dan perilaku ekonomi yang dijalani.

Pada bagian akhir khutbah, Ustaz Nashrullah menegaskan bahwa shalat juga berfungsi sebagai penjaga diri dari perbuatan keji dan mungkar. Ia mengingatkan agar seseorang tidak terjebak dalam kemunafikan dengan tetap shalat namun terus melakukan maksiat.

“Jangan sampai shalat tetap kita laksanakan tapi maksiat tiada henti kita lakukan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam literatur Islam, usia 40 tahun menjadi titik penting dalam kehidupan seorang muslim, apakah ia akan menuju husnul khatimah atau justru menetap dalam kebiasaan buruk. Ia menegaskan bahwa amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat kelak adalah shalat.

Sebagai penutup, Ustaz Nashrullah mengajak jamaah untuk mentadabburi dan menghafal doa dalam Alquran Surat Al-Ahqaf ayat 15 sebagai bentuk harapan agar Allah SWT meridai amal ibadah yang dilakukan, serta menjadikannya teladan bagi keturunan.

“..sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)

Ustaz Nashrullah menyampaikan pesan kepada jamaah, berharap agar shalat yang ditegakkan mampu menghadirkan keridhaan Allah SWT serta menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga anak cucu di kemudian hari.

“Sebagai bentuk harapan agar Allah tunjukkan keridhaannya melalui segala amal yang kita lakukan dan ibadah tersebut juga ikut diamalkan oleh anak cucu keturunan kita,” ucapnya. (*)

Editor: Salman