Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Internasional

Menteri Perang Israel Ancam Mundur jika Invansi ke Gaza Berlanjut

146
×

Menteri Perang Israel Ancam Mundur jika Invansi ke Gaza Berlanjut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi -- PM Benjamin Netanyahu didampingi Menhan Yoav Gallant (tengah) dan Menteri Kabinet Benny Gantz yang merupakan anggota kabinet perang Israel (Foto: ABIR SULTAN POOL/Pool via REUTERS/File Photo Acquire Licensing Rights)

Tel Aviv, Israel — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kini menghadapi tekanan yang semakin besar dari rekan-rekan kabinetnya, termasuk Menteri Perang, Benny Gantz.

Gantz mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya jika Netanyahu tidak segera menetapkan rencana pasca-perang di Gaza.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ia menetapkan batas waktu hingga 8 Juni untuk mencapai enam tujuan strategis, yang meliputi di antaranya berakhirnya kekuasaan Hamas di Gaza dan pembentukan pemerintahan sipil multinasional di wilayah tersebut.

Baca Juga :   Konsep SDGs Desa Kunci Kebangkitan Negara ASEAN dari Dampak Pandemi

“Jika Anda mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi, kami akan menjadi mitra dalam perjuangan ini,” kata Gantz, seperti dikutip dari BBC Internasional, Minggu (19/5/2024).

“Namun, jika Anda memilih langkah-langkah fanatik yang membawa bangsa ini menuju kehancuran, kami akan mundur dari pemerintahan,” tambahnya.

Netanyahu sendiri menolak berkomentar mengenai ancaman tersebut, menyebutnya sebagai “kata-kata palsu” yang berarti kekalahan bagi Israel.

Kabinet perang Israel dibentuk beberapa hari setelah serangan 7 Oktober, ketika pejuang Hamas melakukan serangan militer ke wilayah selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang, dan menyandera sekitar 252 orang.

Baca Juga :   Pilpres Putaran Kedua Turki, Erdogan Unggul dari Kilicdaroglu

Pernyataan Gantz muncul hanya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan, Yoav Gallant, juga anggota kabinet perang, secara terbuka mendesak Netanyahu untuk menyatakan bahwa Israel tidak berencana mengambil alih kekuasaan sipil dan militer di Gaza.

Gallant mengaku telah berulang kali menyuarakan masalah ini selama berbulan-bulan tanpa mendapatkan respons.

Gantz dan Gallant sama-sama berpendapat bahwa mempertahankan kontrol militer di Gaza akan meningkatkan risiko keamanan bagi Israel.

Baca Juga :   Kerajaan Arab Saudi Sumbangkan 100 Ton Kurma untuk Masyarakat Indonesia

Di sisi lain, anggota sayap kanan dalam koalisi pemerintahan Netanyahu meyakini bahwa melanjutkan kontrol di Gaza sangat diperlukan untuk mengalahkan Hamas.

Gantz menegaskan kepada Netanyahu bahwa masyarakat Israel memperhatikan tindakannya.

“Anda harus memilih antara Zionisme dan sinisme, antara persatuan dan faksi, antara tanggung jawab dan ketidakberaturan, antara kemenangan dan bencana,” tegasnya.(*)

Simak berita dan artikel lainnya di Google News