Namun, hasil di lapangan berkata lain. Di bawah Kluivert, performa Timnas justru menurun. Dari enam laga yang dijalani, Indonesia hanya meraih dua kemenangan dan empat kekalahan. Garuda mencetak lima gol dan kebobolan 15 kali.

ADVERTISEMENT

Ironisnya, dua kekalahan terakhir di laga penentuan justru menjadi penutup perjalanan Indonesia di kualifikasi. Lebih buruk lagi, Kluivert bahkan tak muncul untuk menyapa suporter usai kegagalan tersebut.

Kini, suara-suara evaluasi terhadap PSSI dan Kluivert menggema di seluruh penjuru negeri. Dukungan dan kritik mengalir deras dari suporter Indonesia di berbagai negara.

ADVERTISEMENT

Narasi Kecurangan yang Berbalik Arah

Menjelang babak keempat, PSSI sempat menggaungkan isu soal potensi kecurangan. Mereka memprotes keputusan AFC yang menunjuk Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah, serta mempertanyakan penunjukan wasit asal Kuwait dan China.

ADVERTISEMENT

Protes resmi bahkan diajukan agar pertandingan dipimpin pengadil dari luar kawasan Timur Tengah. Jadwal padat dan waktu istirahat minim juga sempat disorot, dengan klaim bahwa Arab Saudi diuntungkan karena mendapat waktu pemulihan lebih panjang.

Namun, kekhawatiran itu terbukti berlebihan. Wasit Kuwait, Ahmed Al-Ali, memimpin pertandingan Indonesia vs Arab Saudi dengan cukup baik. Indonesia tetap kalah, bukan karena keputusan wasit, melainkan karena permainan yang buruk akibat pilihan susunan pemain yang tidak tepat dari Kluivert.

ADVERTISEMENT

Saat menghadapi Irak, wasit asal China, Ma Ning, juga tak membuat keputusan kontroversial. Indonesia sejatinya tampil cukup baik, namun gagal memanfaatkan peluang untuk mencetak gol.

Kegagalan mencetak gol itulah yang menjadi masalah utama. Sehebat apa pun permainan, kemenangan tak mungkin datang jika lini depan tumpul.

Narasi soal kecurangan akhirnya menjadi bumerang. Seolah Indonesia sudah kalah sebelum bertanding. Padahal, kualitas skuad sebenarnya cukup kompetitif, sayangnya, “ibarat bahan masakan yang bagus, hasil akhirnya tetap hambar jika kokinya tak pandai memasak”.

Evaluasi Jadi Harga Mati

Kini, PSSI dan Kluivert harus bertanggung jawab penuh atas kegagalan ini. Evaluasi total menjadi keharusan, mulai dari keputusan mengganti Shin Tae-yong, hingga strategi dan pendekatan yang diterapkan oleh pelatih baru.

Editor: Acehglobalnews.com