Blangpidie – Warga Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dihebohkan dengan penemuan seorang wanita lanjut usia (lansia) tanpa identitas yang diduga ditelantarkan di kawasan Jembatan Babahrot.
Nenek paruh baya tersebut ditemukan oleh warga setempat dalam kondisi terlantar sejak dua hari lalu.
Lantaran tidak memahami bahasa Indonesia dan mengalami demam, warga kemudian melaporkan kejadian ini kepada pihak Polsek Babahrot untuk mendapatkan pertolongan medis.
Petugas kemudian mengevakuasi sang nenek ke Puskesmas Babahrot guna mendapatkan perawatan intensif.
Kepala Puskesmas Babahrot, Masrita Wati, Amd.Keb, saat dikonfirmasi wartawan pada Rabu (7/10/2026), membenarkan adanya penemuan warga lanjut usia yang diduga berasal dari Kabupaten Nias, Sumatra Utara (Sumut).
“Iya benar, ada seorang warga lanjut usia yang ditemukan oleh masyarakat dalam kondisi terlantar di kawasan Jembatan Babahrot. Saat ini, yang bersangkutan sedang dalam penanganan medis di Puskesmas Babahrot,” ujar Masrita Wati kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Masrita menjelaskan, awalnya nenek tersebut dilarikan ke puskesmas karena mengalami demam tinggi. Berkat kesigapan tenaga medis, kondisi kesehatan sang nenek kini sudah berangsur membaik dan pulih.
Pihak puskesmas juga telah berkoordinasi dengan unsur Muspika Babahrot serta Dinas Sosial Kabupaten Abdya.
“Hari ini kondisi ibu tersebut sudah membaik dan sembuh. Kami juga telah melaporkan temuan ini kepada bapak Camat serta pihak Dinas Sosial. Jajaran terkait bahkan sudah turun langsung ke puskesmas untuk meninjau kondisi ibu asal Nias ini,” ungkap Masrita.
Kendati demikian, pihak puskesmas berharap instansi terkait dapat segera memfasilitasi proses pemulangan nenek tersebut ke kampung halamannya di Nias.
Selain karena tidak memiliki sanak saudara di Aceh, kendala komunikasi serta kondisi pasien yang membutuhkan penanganan khusus sempat membuat kenyamanan pasien lain di puskesmas sedikit terganggu.
“Ibu ini tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga menyulitkan komunikasi. Selain itu, kondisi kesehariannya sempat membuat kurang nyaman pasien lain di ruang perawatan, karena beliau menolak saat dipakaikan popok medis (pampers), sehingga membutuhkan perhatian khusus dari pihak berwenang,” pungkasnya. (*)




