“Kita diajak untuk bertanya: Apa yang telah kita berikan untuk daerah ini? Apa kontribusi kita untuk kemajuan Abdya? Dan apa yang akan kita wariskan kepada generasi yang akan datang?” sambung Mukhlis.
Ia menjelaskan, perjuangan pembentukan Abdya telah dimulai sejak 1962 dan membutuhkan proses panjang hingga akhirnya disahkan pada era reformasi. Mukhlis menekankan pentingnya menjaga semangat tersebut agar tidak luntur.
Menurut dia, pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pembinaan moral dan spiritual masyarakat. Hal itu dinilai menjadi tantangan utama saat ini.
“Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka berkorban tanpa menuntut balasan. Mereka tidak meminta jabatan, tidak pula mengharapkan penghargaan,” kata Mukhlis.
“Lalu pertanyaan besar bagi kita hari ini adalah Apakah kita sudah melanjutkan semangat perjuangan itu? Ataukah kita justru terlena dengan apa yang telah mereka wariskan?,” kata Mukhlis.
Lebih lanjut, ia menilai kepemimpinan Bupati Safaruddin dan Wakil Bupati Zaman Akli saat ini menunjukkan komitmen dalam pembangunan yang seimbang antara fisik dan spiritual.
Program keagamaan seperti “Peukong Agama” dinilai menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter masyarakat.
Mukhlis menyebut, berbagai capaian telah berhasil dilakukan oleh Bupati Safaruddin mulai dari Abdya menjadi tuan rumah MTQ tingkat provinsi Aceh, program Guru Dayah Masuk Sekolah sebagai penguatan pendidikan karakter.
Kemudian, lanjutnya, lahirnya kader-kader Qur’ani, dengan target 20 hafiz 30 juz setiap tahun yang didukung dengan beasiswa, hingga gerakan menghidupkan shalat berjamaah di masjid.
“InsyaAllah, jika ini terus berjalan, dalam lima tahun ke depan Abdya akan melahirkan generasi Qur’ani yang menjadi kebanggaan kita semua,” kata Mukhlis.
Mukhlis juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW sebagai peringatan bagi umat agar tidak hanya menjadikan agama sebagai simbol.
Menurutnya, generasi muda harus mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kekuatan spiritual. Hal ini penting agar pembangunan tidak kehilangan arah.

Tinggalkan Balasan