Blangpidie – Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Safaruddin, resmi menutup seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Abdya, Minggu (27/4/2026) malam di Lapangan Pulau Kayu, Kecamatan Susoh.

ADVERTISEMENT

Acara penutupan tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta ribuan masyarakat dari berbagai kecamatan.

Dalam sambutannya, Safaruddin menyinggung perjalanan pemerintahan yang kini memasuki tahun kedua bersama Wakil Bupati Zaman Akli. Ia menyadari ekspektasi publik terhadap realisasi janji kampanye semakin tinggi.

ADVERTISEMENT

Pemerintah daerah, kata dia, mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjawab harapan tersebut. Fokus kebijakan diarahkan pada percepatan pembangunan dengan semangat “Arah Baru Abdya Maju”.

Safaruddin menilai, keberhasilan pembangunan tidak bisa dicapai tanpa keterlibatan semua pihak. Ia mengajak masyarakat meninggalkan sekat-sekat perbedaan dan memperkuat semangat kebersamaan.

ADVERTISEMENT

“Bagi saya, kompetisi itu sudah selesai. Pilkada sudah selesai. Tidak ada lagi kompetisi, yang kita butuhkan adalah nilai kolaborasi dan solidaritas, agar Abdya ini bisa membangun ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, momentum peringatan hari jadi daerah harus dimaknai sebagai ruang mempererat kolaborasi. Ia mencontohkan keterlibatan warga dalam kegiatan Meuseuraya Toet Lemang bukti nyata gotong royong.

ADVERTISEMENT

“Inilah semangatnya, semua orang tergerak untuk melakukan Toet Lemang. Nilai gotong royong dan kebersamaan itu bisa terbentuk. Itulah nilai kebudayaan dan filosofi kehidupan yang kita dapatkan,” ucap Safaruddin.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Harga bambu yang sebelumnya berkisar Rp2.000 per batang meningkat hingga Rp7.000 sampai Rp8.000 selama kegiatan berlangsung.

Kondisi itu, sebut Safaruddin, turut menggerakkan sektor lain, seperti penjualan beras ketan, kelapa, dan aneka produk olahan. Pelaku usaha kecil dan UMKM juga ikut merasakan manfaat dari peningkatan aktivitas ekonomi tersebut.

Selama dua pekan pelaksanaan HUT Abdya, perputaran uang di masyarakat diperkirakan mencapai Rp3 hingga Rp4 miliar. Angka itu menunjukkan geliat ekonomi lokal yang tumbuh melalui kegiatan berbasis budaya dan partisipasi masyarakat.

Safaruddin menilai, pendekatan seperti ini perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Lebih jauh, Safaruddin memaknai tradisi Toet Lemang sebagai simbol kehidupan. Proses memasak lemang yang membutuhkan takaran dan kesabaran dinilai mencerminkan nilai kebersamaan dan ketekunan.

Dari tradisi itu, masyarakat diajak memahami pentingnya kerja sama dalam mencapai hasil yang baik. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, relevan diterapkan dalam pembangunan daerah.

Ia juga menegaskan bahwa dinamika politik telah berakhir seiring selesainya Pilkada. Saat ini, pemerintah daerah membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama.

Kompetisi politik, kata dia, harus digantikan dengan semangat kolaborasi dan solidaritas. Dengan kebersamaan, Abdya diyakini mampu berkembang ke arah yang lebih baik.

Pada kesempatan itu, Safaruddin turut mengajak masyarakat mempersiapkan diri menyambut Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Aceh tahun 2027.

Kabupaten Abdya ditetapkan sebagai tuan rumah setelah penantian panjang. Terakhir kali ajang serupa digelar di wilayah ini pada 1984, saat masih berstatus bagian dari Kabupaten Aceh Selatan.

“Coba bayangkan, dari tahun 1984, sudah 42 tahun, kita tidak pernah merasakan menjadi tuan rumah MTQ. Maka saatnya di tahun 2027 mendatang kita buktikan bahwa kita akan memberikan yang terbaik dalam penyelenggaraan MTQ tingkat Aceh di Kabupaten yang kita cintai ini,” pungkas Safaruddin. (*)

Editor: Tim Redaksi
Reporter: Salman