| BLANGPIDIE – Sulitnya akses bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan masyarakat Aceh dalam beberapa hari terakhir sejak banjir dan longsor melanda sejumlah kabupaten/kota. Kondisi ini diperparah dengan pemadaman listrik di banyak wilayah sehingga kebutuhan BBM meningkat tajam.
Di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), yang tidak terdampak langsung bencana, antrean kendaraan di SPBU dan Pertashop justru semakin panjang. Setiap hari, ratusan kendaraan roda dua dan empat mengular bak ular, sementara stok BBM eceran di kios-kios juga ikut kosong.
Ironisnya, kemunculan pedagang BBM dadakan justru membuat masyarakat terbeban. Mereka menjual bensin pertalite dengan harga di atas ketentuan resmi pemerintah.
Pertamax bahkan dijual dalam kemasan botol air mineral ukuran besar dan sedang. Untuk botol besar, harganya berkisar Rp20.000 hingga Rp45.000, sedangkan ukuran sedang dijual Rp15.000 sampai Rp20.000 per botol.
Botol besar air kemasan mineral biasanya berisi 1,5 liter, atau setara dengan 1.500 ml. Sedangkan, botol sedang air mineral umumnya berisi 600 ml (atau 0,6 liter).
Padahal, harga resmi BBM Pertamax Rp 12.500 per liter. Bayangkan saja keuntungan yang diraup pedagang dengan kondisi tersebut.
Di Abdya terdapat tiga SPBU, masing-masing di Pantai Perak Susoh, Kedai Paya Blangpidie, dan Babahrot, serta sejumlah Pertashop yang tersebar di beberapa kecamatan.
Pantauan, Rabu (3/12/2025), SPBU di Pantai Perak Susoh dan Kedai Paya Blangpidie terus melayani pembelian BBM bersubsidi setiap hari.
Antrean semakin panjang. Di SPBU Pantai Perak Susoh, antrean mobil mencapai ratusan meter hingga perbatasan Desa Padang Hilir Susoh dan Desa Keude Siblah Blangpidie. Sementara itu, antrean sepeda motor meluas hingga depan SDN 1 Susoh.
Banyak warga akhirnya memilih membeli dari pedagang eceran meski harganya melonjak tinggi karena enggan menunggu berjam-jam di SPBU.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRK Abdya dari Partai Gelora, Deviyani, angkat bicara. Ia mengatakan lonjakan permintaan BBM terjadi akibat kekhawatiran masyarakat setelah bencana banjir menerjang sejumlah wilayah di Aceh.
“Karena bencana banjir di beberapa kabupaten kota kemarin menyebabkan seluruh masyarakat merasa takut dan resah akan kekurangan BBM,” ujar Deviyani kepada , Rabu (3/12/2025).
Ia menyebut sebagian oknum diduga membeli dan menimbun BBM, sehingga memperparah antrean panjang di berbagai SPBU. Menurutnya, kondisi listrik yang tidak stabil juga membuat beberapa SPBU tidak dapat beroperasi secara normal.
“Ketakutan dan keresahan inilah yang menyebabkan antrean BBM di setiap SPBU di seluruh kabupaten/kota di Aceh,” tambahnya.
Deviyani meminta warga, khususnya pedagang, agar tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah situasi sulit. Ia menyebut penjualan BBM dengan harga terlalu tinggi hanya akan menambah beban masyarakat.
“Harusnya pihak-pihak yang memperjualbelikan BBM tidak menaikkan harga BBM sedrastis mungkin hingga menyulitkan masyarakat,” ujarnya. (*)


