Blangpidie – Sebagian petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mulai melakukan panen padi Musim Tanam (MT) Rendengan 2025/2026.
Pada awal musim panen ini, gabah dibeli di tingkat petani dengan capaian harga yang menggembirakan.
Gabah petani Abdya saat ini dibeli dengan kisaran harga Rp 6.800 hingga Rp 7.200 per kilogram, melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian Abdya Hendri Yadi mengatakan, kenaikan harga gabah ini menjadi sinyal positif bagi petani. Ia bahkan memprediksi harga masih berpeluang mengalami kenaikan seiring berjalannya musim panen.
“Awal musim panen ini, harga gabah di tingkat petani sudah melebihi HPP, yakni berkisar Rp 6.800 hingga Rp 7.200 per kilogram. Tidak menutup kemungkinan harga akan terus meningkat,” kata Hendri, Rabu (4/2/2026).
Hendri menjelaskan, pada MT Rendengan 2025/2026, petani Abdya menanam padi di lahan seluas sekitar 7.150 hektare. Areal tanam tersebut tersebar di sembilan kecamatan di wilayah kabupaten setempat.
Sebagian besar petani, lanjut Hendri, menanam padi varietas Inpari 32. Varietas tersebut merupakan benih bantuan pemerintah yang disalurkan kepada petani untuk mendukung produktivitas pertanian pada musim tanam ini.
“Benih padi varietas Inpari 32 ini merupakan bantuan dari pemerintah kepada petani pada MT Rendengan 2025/2026,” ujarnya.
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, kondisi tanaman padi yang sedang dipanen dinilai sangat baik. Hendri optimistis hasil panen petani tahun ini akan maksimal dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Ia memperkirakan, total produksi padi pada MT Rendengan 2025/2026 dapat mencapai sekitar 50.000 ton. Angka tersebut setara dengan capaian produksi pada MT Gadu 2025.
“Insya Allah, hasil panen padi pada MT Rendengan ini mencapai target, yakni sekitar 50 ribu ton. Jumlah ini sama dengan hasil produksi pada MT Gadu 2025,” kata Hendri.
Di tengah tingginya harga gabah, Hendri mengimbau petani agar tidak menjual seluruh hasil panen mereka. Petani diminta menyisakan sebagian gabah untuk kebutuhan pangan keluarga.
“Hasil panen jangan dijual semua. Sisakan untuk kebutuhan pangan keluarga,” ujarnya.
Menurut Hendri, Abdya merupakan salah satu daerah lumbung pangan di Aceh dan menjadi penyangga kebutuhan pangan wilayah barat selatan provinsi tersebut. Kondisi ini harus dijaga, terutama pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah di Aceh.
Akibat bencana tersebut, banyak lahan sawah di beberapa kabupaten dan kota tidak dapat difungsikan secara optimal. Situasi ini dinilai akan berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga gabah ke depan.
“Kondisi ini tentu sangat berpengaruh terhadap harga gabah nantinya. Karena itu, kami meminta petani agar tetap menyisakan hasil panen untuk kebutuhan pangan keluarga,” ujar Hendri.
Terkait penyerapan gabah, Hendri menyebutkan, saat ini Perum Bulog Blangpidie belum berkewajiban melakukan pembelian. Hal itu disebabkan harga gabah di tingkat petani masih berada di atas HPP.
“Jika nanti harga gabah turun di bawah HPP, maka Bulog berkewajiban membeli gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram,” katanya.
Hendri menambahkan, masa panen MT Rendengan diperkirakan berlangsung hingga Maret 2026. Sementara itu, pelaksanaan MT Gadu 2026 direncanakan dimulai pada April mendatang.
“MT Gadu 2026 akan kita laksanakan pada bulan April, kecuali di Kecamatan Babahrot, karena petani di sana baru selesai tanam setelah jaringan irigasi selesai diperbaiki,” ujar Hendri.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Abdya akan terus berupaya membangun dan memperbaiki sarana serta prasarana pertanian. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung peningkatan produksi dan menjaga ketahanan pangan daerah ke depan.
“Pemerintah Abdya akan terus bekerja maksimal untuk membangun dan memperbaiki seluruh sarana dan prasarana sektor pertanian, sehingga produksi panen akan terus meningkat kedepannya,” pungkas Hendri (*)


