Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Komunitas MenulisOpini

Memaknai Sahabat dan Jadilah Diantara Saling Menguatkan

497
×

Memaknai Sahabat dan Jadilah Diantara Saling Menguatkan

Sebarkan artikel ini
Murhaban, SH adalah Penyuluh Agama Islam Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

Oleh : Murhaban, SH

SAHABAT biasa dikenal sebagai seseorang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan kita. Kata “sahabat” berasal dari akar kata bahasa arab “sahiba”, yang memiliki arti “menyertai”.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Maka orang yang disebut sahabat adalah mereka yang selalu menyertai dan menemani dalam setiap keadaan. Baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan lapang maupun sempit, sahabat akan selalu hadir untuk kita.

Kita sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini adalah mahluk sosial yang saling berhubungan satu sama lain, artinya mahluk yang saling berkomunikasi serta saling membutuhkan di dalam berbagai macam kegiatandalam setiap pergaulan.

Menjadi sahabat pilihan di antara teman-teman tentunya melalui proses yang panjang di saat memilih menjadi sahabat tersebut artinya kata kunci dari sahabat berawal dari teman dan perkenalan jika kita mau memilih walaupun baru kenal.

Namun, secara ringkas sosok Teman yang sesungguhnya itu adalah tentunya menyayangi, bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, merangkul bukan memukul, membina bukan menghina.

Baca Juga :   Inklusi Gender Mendorong Perubahan Dalam Dunia Politik

Teman itu mencurahkan bukan memurahkan, mencari solusi bukan mencari sensasi, membutuhkan bukan meruntuhkan, menghargai bukan melukai.

Kadang teman yang suka mentraktir kita, bukan karena mereka berlebihan, tapi karena mereka menghargai.

Ada teman yang selalu Share WA ke kita, bukan karena merasa pintar tapi karena ingat pada kita.

Suatu hari ada yang mengingatkan tentang agama dan iman, bukan karena merasa baik dan sudah sempurna, tapi itulah perwujudan pertemanan.

Suatu saat kita semua akan terpisah, baik oleh jarak waktu maupun ajal yang akan menjemput Kita, namun ada teman yang terus mendo’akan kita.

Suatu saat anak-anak dan cucu-cucu kita akan bertemu mereka dan bercerita dulu kita pernah menjalin pertemanan bersama.

Pertemanan tidak mencari cari kesalahan, tapi menutupi kesalahan.

Pertemanan berlandaskan hati yang tulus dan ikhlas. Pertemanan akan terus berlangsung walau banyak sekali halangannya.

Baca Juga :   5 Konspirasi Licik Yahudi Runtuhkan Islam

Pada satu waktu sebagian cuma memperhatikan kesuksesan kita, tapi ada sebagian teman yang peduli akan kondisi kesehatan kita. Maka itulah pertemanan yang sejati.

Suatu hari kita terlena dalam canda dan tawa, tapi ada yang mengingatkan agar kita tidak pernah lalai. Itulah teman, meskipun tidak sering bertemu tapi selalu diingat.

Pengaruh Teman Bagi Seseorang

Banyak orang yang terjerumus ke arah negatif dan keburukan, karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang baik.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Baca Juga :   Guru, Hak dan Kewajiban

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Oleh karena itu, penting bagi siapa saja untuk bijak dalam memilih sahabat. Jangan sampai orang yang kita anggap sebagai sahabat ternyata tidak mampu membawa kita semakin dekat dengan Allah, bahkan justru membawa pengaruh buruk dalam kehidupan kita.

Ibnu Athoilah pernah menyampaikan sebuah nasehat indah tentang persahabatan, “Janganlah kamu berteman dengan orang yang keadaannya tidak bisa membangkitkan semangatmu dan pembicaraannya tidak mampu membimbingmu ke jalan Allah”. (*)

Penulis : Murhaban, SH adalah Penyuluh Agama Islam Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.