| Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-37 baru saja usai. Panggung gemerlap, sorak-sorai, tepuk tangan, dan pujian mengalir untuk qari dan qariah yang lantang melantunkan ayat-ayat Allah. Kita terpukau. Kita tersihir oleh nada-nada merdu yang seolah bisa menembus langit. Tapi, apakah kita berani menoleh ke cermin hati sendiri? Atau kita terlalu sibuk mengagumi gema suara orang lain, hingga suara hati kita sendiri tenggelam dalam debu kesibukan?
Mari kita jujur. Kita sering lebih kagum pada getar nada daripada getar iman. Kita mengagumi vibrato panjang, tajwid sempurna, dan tempo yang pas, tapi masih menunda shalat lima waktu. Bibir fasih membaca “Aqimis shalah” (dirikanlah shalat), tapi kaki enggan melangkah ke masjid. Suara yang merdu itu mungkin menyentuh telinga orang, tapi hatinya tetap kering. Seperti menyalakan lampu indah di rumah yang kosong — terang, tapi tak berisi.
MTQ tidak salah. Sama sekali tidak. Ia adalah panggung syiar, sarana syukur, dan wahana menumbuhkan cinta pada Al-Qur’an. Yang salah adalah ketika kita menjadikannya ajang unjuk suara, bukan ajang pengukuhan ketaatan. Ketika kita sibuk mengukur siapa yang paling merdu, tapi mengabaikan siapa yang paling taat. Kita tersihir oleh gemerlap panggung, tapi lupa bahwa Allah menilai apa yang tersimpan dalam hati dan diamalkan melalui anggota tubuh.
Kita perlu jujur pada diri sendiri: seringkali kita lebih bangga tepuk tangan daripada disiplin shalat, lebih terpesona nada tinggi daripada kesungguhan amal. Kita menghadiri MTQ dengan semangat, tapi apakah kita menghadiri panggilan Allah dengan kesungguhan yang sama? Bacaan indah tanpa amal adalah gema kosong; melodi tanpa makna yang hanya mengisi telinga, bukan jiwa.
Kini, MTQ ke-38 menanti. Ini kesempatan kita untuk introspeksi. MTQ bukan sekadar lomba baca, tapi sarana syukur, wadah menumbuhkan taat dan takwa. Suara yang merdu akan lebih bermakna jika diikuti amal nyata. Bacaan Al-Qur’an akan menyejukkan langit jika hati dan anggota tubuh ikut bersujud. Semoga Aceh tidak hanya dikenal karena tilawah yang memukau, tapi juga karena masyarakatnya mampu membumikan Al-Qur’an, hidup sesuai nilai-nilainya, dan meneguhkan ketaatan dalam setiap langkah.
Suara paling merdu bukan yang memukau manusia, tetapi yang selaras dengan hati yang tunduk, tangan yang beramal, dan kaki yang tegak menunaikan shalat. Sebelum kita sibuk memperindah nada, mari perindah ritme hidup dengan ketaatan. Sebelum kita kagum pada bacaan orang lain, mari introspeksi bacaan dan ibadah sendiri. MTQ ke-37 sudah berlalu, MTQ ke-38 menanti. Semoga setiap getaran suara yang dilantunkan bukan sekadar memukau telinga, tetapi benar-benar menumbuhkan iman, membentuk taat, dan meneguhkan takwa.
Jangan sampai suara emas menjadi semacam hiasan kosong: indah di telinga manusia, tapi mati di hati. Jangan sampai kemenangan di panggung menjadi simbol yang menipu: dipuji manusia, tapi Allah menyaksikan ketidaktaatan. Kita harus menohok diri sendiri: tilawah indah tanpa amal adalah lukisan tanpa jiwa, musik tanpa pesan, gema yang hanya membuat kita lupa pada panggilan shalat yang menunggu.***
Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam, STIT Muhmmadiyah Aceh Barat Daya.


