Blangpidie – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyiapkan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar untuk memperbaiki atap Masjid Agung Baitul Ghafur yang berada di Gampong Seunaloh, Kecamatan Blangpidie.
Perbaikan itu direncanakan dilaksanakan pada tahun anggaran 2026 dengan sumber dana dari DOKA.
Langkah tersebut diambil menyusul kerusakan serius pada bagian atap masjid kebanggaan masyarakat Abdya itu.
Sejumlah insiden bongkahan beton yang jatuh ke lantai masjid dinilai berpotensi membahayakan jamaah saat beribadah.
Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Abdya, Muhammad Rasyid, mengatakan perbaikan dilakukan berdasarkan hasil investigasi tim ahli struktur bangunan. Ia menyebut, kerusakan yang terjadi tidak bisa ditangani secara parsial.
“Tahun ini, pemerintah daerah melakukan perbaikan dan penguatan struktur atap Masjid Agung senilai Rp 3,5 miliar,” ujar Rasyid kepada wartawan, Jumat (20/2/2026).
Menurut dia, keselamatan dan kenyamanan jamaah menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Rasyid menjelaskan, investigasi dilakukan oleh tenaga ahli struktur, Surya Hermansyah ST MT, dosen Teknik Sipil USK. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan tiga persoalan utama pada konstruksi atap masjid.
Ia menuturkan, temuan itu menjadi dasar pemerintah memutuskan perbaikan dilakukan secara menyeluruh. “Hal ini sesuai hasil investigasi Tenaga Ahli Struktur,” katanya.
Temuan pertama, kata Rasyid, adalah kebocoran pada atap plat dak masjid yang dipicu keretakan pada struktur balok dan lantai plat dak. Keretakan tersebut diduga akibat mutu beton yang kurang saat proses pengerjaan, sebagaimana dibuktikan melalui uji hammer test.
Rasyid mengungkapkan, pemeriksaan terhadap tulangan besi tidak dapat dilakukan secara menyeluruh karena harus merujuk pada dokumen perencanaan awal.
“Keretakan ini karena kurangnya mutu beton saat pengerjaan,” jelasnya mengutip hasil investigasi.
Selain itu, lanjut dia, ditemukan bongkahan beton runtuh dari atas plafon. Kondisi ini diduga terjadi akibat sisa pengecoran dan air semen pada bekisting yang tidak dibersihkan secara maksimal saat pekerjaan dilakukan bertahap.
Dari hasil pembongkaran sebagian plafon, sebut Rasyid, tim juga menemukan retak lentur hampir di semua balok serta retak melingkar pada beberapa bagian. Ia menyebutkan, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kurangnya kekuatan dan rasio besi, baik dalam tahap perencanaan maupun pelaksanaan.
Temuan ketiga, adalah kerusakan plafon yang dipicu kebocoran atap plat dak. Kebocoran itu menyebabkan air merembes dan merusak plafon hingga jaringan listrik masjid.
Rasyid menegaskan, kerusakan tersebut tidak bisa dibiarkan karena berpotensi membahayakan jamaah.
“Kesimpulannya, perlu perbaikan dan penguatan struktur bangunan secara komprehensif agar keretakan, kebocoran dan kerusakan plafond serta jaringan listrik dapat diatasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan teknis yang direncanakan meliputi peningkatan kemiringan atap, pelapisan membran waterproof anti-UV, injeksi epoxy dan zat aditif, grouting beton, hingga pemasangan sistem talang vertikal dan drainase horizontal yang lebih maksimal. Setelah perbaikan selesai, perawatan berkala juga akan menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Artinya, perlu perawatan dan pemeliharaan berkala ke depan setelah diperbaiki,” kata Rasyid.
Secara terpisah, Bupati Abdya Safaruddin menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menuntaskan persoalan tersebut. Ia meminta masyarakat, khususnya jamaah Masjid Agung Baitul Ghafur, bersabar selama proses perbaikan berlangsung.
Menurut Safaruddin, walaupun dari hasil investigasi sudah terlihat benang merah masalahnya, anggap saja itu masa lalu yang kelam.
Ia berharap, pekerjaan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh agar masalah serupa tidak kembali terulang.
“Pemkab harus serius memperhatikan semua fasilitas yang dibangun rekanan, apalagi ini rumah ibadah dan ikon kebanggaan masyarakat,” tegasnya. (*)

