Dari hasil pembongkaran sebagian plafon, sebut Rasyid, tim juga menemukan retak lentur hampir di semua balok serta retak melingkar pada beberapa bagian. Ia menyebutkan, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kurangnya kekuatan dan rasio besi, baik dalam tahap perencanaan maupun pelaksanaan.
Temuan ketiga, adalah kerusakan plafon yang dipicu kebocoran atap plat dak. Kebocoran itu menyebabkan air merembes dan merusak plafon hingga jaringan listrik masjid.
Rasyid menegaskan, kerusakan tersebut tidak bisa dibiarkan karena berpotensi membahayakan jamaah.
“Kesimpulannya, perlu perbaikan dan penguatan struktur bangunan secara komprehensif agar keretakan, kebocoran dan kerusakan plafond serta jaringan listrik dapat diatasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan teknis yang direncanakan meliputi peningkatan kemiringan atap, pelapisan membran waterproof anti-UV, injeksi epoxy dan zat aditif, grouting beton, hingga pemasangan sistem talang vertikal dan drainase horizontal yang lebih maksimal. Setelah perbaikan selesai, perawatan berkala juga akan menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Artinya, perlu perawatan dan pemeliharaan berkala ke depan setelah diperbaiki,” kata Rasyid.
Secara terpisah, Bupati Abdya Safaruddin menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menuntaskan persoalan tersebut. Ia meminta masyarakat, khususnya jamaah Masjid Agung Baitul Ghafur, bersabar selama proses perbaikan berlangsung.
Menurut Safaruddin, walaupun dari hasil investigasi sudah terlihat benang merah masalahnya, anggap saja itu masa lalu yang kelam.
Ia berharap, pekerjaan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh agar masalah serupa tidak kembali terulang.
“Pemkab harus serius memperhatikan semua fasilitas yang dibangun rekanan, apalagi ini rumah ibadah dan ikon kebanggaan masyarakat,” tegasnya. (*)

Tinggalkan Balasan