Oleh: Dr. Tgk. Saiful Bahri Ishak, MA
RAMADHAN bukan sekadar bulan ritual, melainkan musim penyucian. Ia hadir setiap tahun bukan hanya untuk mengubah jadwal makan dan tidur kita, tetapi untuk menggugat cara kita hidup. Dalam bahasa para arif, Ramadhan adalah madrasah tazkiyah; proses membersihkan jiwa dari karat dunia yang menempel perlahan, tanpa kita sadari.
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi bergerak lebih kencang daripada kebijaksanaan. Media sosial membentuk opini sebelum akal sempat merenung. Dunia modern menawarkan kenyamanan, tetapi sekaligus melahirkan kegelisahan yang tak terdefinisi. Banyak orang sukses secara materi, namun miskin ketenangan. Banyak yang terhubung secara digital, tetapi terasing secara spiritual. Di sinilah urgensi Ramadhan menjadi nyata: ia datang sebagai jeda ilahiah di tengah hiruk-pikuk peradaban.
Tazkiyah bukan sekadar meninggalkan makan dan minum. Ia adalah disiplin batin. Puasa melatih kita menahan yang halal, agar kita lebih mudah meninggalkan yang haram. Ia mengajari kita mengontrol keinginan, bukan dikontrol oleh keinginan. Dalam tradisi tasawuf, jiwa yang tidak dididik akan dikuasai syahwat dan ambisi; sedangkan jiwa yang disucikan akan menjadi cermin bagi cahaya Ilahi.
Modernitas sering kali memanjakan ego. Kita didorong untuk tampil, untuk diakui, untuk dilihat. Bahkan ibadah pun kadang tergelincir menjadi panggung pencitraan. Ramadhan datang untuk membongkar kesombongan yang halus itu. Puasa adalah ibadah tersembunyi; tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang berpuasa dengan jujur kecuali Allah. Di situlah pendidikan keikhlasan bekerja. Jiwa yang bersih tidak sibuk mencari tepuk tangan manusia, karena ia cukup dengan penilaian Tuhannya.
Lebih jauh, Ramadhan juga mengajarkan empati sosial. Ketika kita menahan lapar, kita diingatkan pada mereka yang lapar bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan. Dalam konteks masyarakat modern yang diwarnai ketimpangan ekonomi, puasa seharusnya melahirkan solidaritas, bukan sekadar seremoni buka bersama. Zakat, infak, dan sedekah bukan pelengkap, melainkan bagian integral dari tazkiyah. Harta yang dikeluarkan dengan tulus bukan mengurangi, tetapi membersihkan.

Tinggalkan Balasan