Namun tantangan terbesar jiwa modern bukan hanya pada aspek material, melainkan pada distraksi. Kita sulit khusyuk karena pikiran dipenuhi notifikasi. Kita sulit tafakur karena terbiasa dengan kecepatan. Ramadhan mengajarkan perlambatan. Ia memanggil kita untuk kembali pada sunyi. Qiyamullail bukan hanya ibadah malam, tetapi dialog batin yang jujur antara hamba dan Tuhannya. Dalam sujud yang panjang, manusia menemukan dirinya yang rapuh sekaligus mulia.
Tazkiyah juga berarti keberanian untuk mengoreksi diri. Muhasabah adalah tradisi para ulama dan orang-orang saleh. Mereka tidak sibuk menghitung kesalahan orang lain sebelum menghitung kekurangan diri sendiri. Di era yang penuh polarisasi dan saling menyalahkan, Ramadhan seharusnya menumbuhkan kerendahan hati. Jiwa yang bersih tidak mudah mencaci, tidak ringan memfitnah, dan tidak tergesa menghakimi.
Kita juga perlu menyadari bahwa penyakit jiwa modern sering tersembunyi dalam bentuk ambisi yang berlebihan: ingin selalu unggul, ingin selalu dipuji, ingin selalu menang. Padahal Ramadhan mengajarkan kepasrahan. Ketika azan Maghrib berkumandang, kita berbuka bukan karena lapar telah memuncak, tetapi karena Allah mengizinkan. Ada pendidikan ketaatan di sana – bahwa hidup bukan tentang mengikuti selera, melainkan mengikuti petunjuk.
Ramadhan sejatinya adalah latihan kembali kepada fitrah. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, namun perjalanan hidup membuat hati ternoda. Puasa, tilawah, doa, dan istighfar adalah sarana pencucian itu. Jika setelah Ramadhan kita tetap keras hati, mudah marah, dan gemar menyakiti, maka boleh jadi yang berubah hanya jadwal makan kita, bukan kualitas jiwa kita.
Sebagai makhluk yang diberikan akal untuk melawan nafsu, kita dituntut untuk tidak berhenti pada simbol. Kita harus memaknai Ramadhan sebagai proyek peradaban. Jiwa-jiwa yang bersih akan melahirkan masyarakat yang adil. Hati yang jernih akan melahirkan kebijakan yang bijak. Tidak ada reformasi sosial tanpa reformasi spiritual. Tazkiyah individu adalah fondasi bagi kebangkitan kolektif.

Tinggalkan Balasan