Akhirnya, Ramadhan bukanlah tujuan, melainkan jalan. Ia datang dan pergi, tetapi nilai-nilainya harus menetap. Modernitas tidak harus kita tolak, tetapi harus kita kendalikan dengan jiwa yang tercerahkan. Di tengah dunia yang terus berubah, Ramadhan mengingatkan bahwa pusat kehidupan tetaplah hati. Jika hati bersih, dunia menjadi sarana; jika hati keruh, dunia menjadi beban.

ADVERTISEMENT

Semoga Ramadhan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penyucian yang sungguh-sungguh, sebuah tazkiyah yang menjadikan kita lebih tenang dalam kesibukan, lebih rendah hati dalam keberhasilan, dan lebih dekat kepada Allah dalam setiap langkah kehidupan.***

Dr. Tgk. Saiful Bahri Ishak, MA ialah Dosen Program Magister Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia. Dan Dosen Luar Biasa (DLB) STAI Nusantara Banda Aceh.

ADVERTISEMENT
Editor: Tim Redaksi