Mekkah – Bagi banyak jamaah haji dan umrah asal Aceh yang berkunjung ke Tanah Suci, nama Tgk. Syeikh Sulaiman al-Asyi atau yang akrab disapa Cek Man bukanlah sosok asing.

Di tengah hiruk-pikuk Kota Mekkah, pria asal Pidie itu dikenal sebagai figur yang selama puluhan tahun membuka pintu rumahnya untuk menyambut warga Aceh yang datang beribadah maupun menuntut ilmu di Arab Saudi.

Kehadiran Cek Man bahkan telah menjadi bagian dari cerita perjalanan ribuan orang Aceh di Tanah Suci.

Rumahnya berada di kawasan Syaraya, Mekkah, kerap menjadi tempat berkumpul, bersilaturahmi, hingga melepas rindu terhadap kampung halaman.

Nama Cek Man kembali menjadi perhatian saat kediamannya menerima kunjungan sejumlah jamaah dan petugas haji Aceh, termasuk Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), H. Zaman Akli, Sabtu (6/6/2026).

ADVERTISEMENT

Namun, lebih dari sekadar jamuan makan siang, kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana sosok diaspora Aceh ini tetap menjaga hubungan erat dengan tanah kelahirannya meski telah puluhan tahun menetap di Arab Saudi.

Cek Man Merantau ke Mekkah Sejak Era 1960-an

Cek Man bersama istrinya, Dahniar, merupakan perantau asal Kong Kong, Dayah Baro, Mukim Gampong Aree, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh.

ADVERTISEMENT

Pasangan tersebut diketahui telah menetap di Mekkah sejak dekade 1960-an. Dalam perjalanan hidupnya, mereka kemudian menjadi warga negara Arab Saudi dan membangun keluarga di Tanah Suci.

Meski telah lama tinggal jauh dari Aceh, identitas budaya yang mereka bawa tidak pernah hilang.

Bahasa Aceh masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. Bahkan, anak-anak dan anggota keluarga mereka tetap mampu berkomunikasi dengan fasih menggunakan bahasa Aceh.

Bagi tamu asal Aceh yang berkunjung, suasana di rumah Cek Man sering kali menghadirkan perasaan seolah sedang berada di kampung sendiri.

ADVERTISEMENT

Rumah Singgah Orang Aceh di Tanah Suci

Di kalangan masyarakat Aceh, rumah Cek Man dikenal sebagai salah satu tempat yang selalu terbuka bagi sesama perantau.

Setiap musim haji dan umrah, kediamannya hampir tidak pernah sepi dari tamu. Jamaah yang datang dari berbagai kabupaten di Aceh kerap mampir untuk bersilaturahmi, menikmati hidangan khas daerah, atau sekadar berbincang dalam bahasa Aceh.

Tidak hanya jamaah haji dan umrah, pelajar serta mahasiswa Aceh yang menempuh pendidikan di Arab Saudi juga sering menjadikan rumah tersebut sebagai tempat singgah.

Kebiasaan itu telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadikan Cek Man sebagai salah satu figur yang cukup dikenal di kalangan diaspora Aceh di Timur Tengah.

Banyak warga Aceh yang pernah merasakan langsung keramahan keluarga tersebut. Karena itu, nama Cek Man sering disebut sebagai sosok yang membantu menjaga ikatan sosial masyarakat Aceh di perantauan.

Menjaga Rasa Aceh di Tengah Kota Mekkah

Salah satu hal yang paling melekat dari sosok Cek Man adalah upayanya mempertahankan kuliner dan tradisi Aceh di Mekkah.

Setiap kali menerima tamu, berbagai menu khas Aceh hampir selalu tersaji di meja makan. Mulai dari kari kambing boh labu khas Pidie, kuah beulangong, kuah leumak, keumamah, ikan bandeng tumis, dendeng daging, engkot muloh, keurupuk mulieng hingga aneka masakan tradisional lainnya.

Bagi jamaah yang telah berminggu-minggu berada di Arab Saudi, sajian tersebut menjadi pelepas rindu terhadap cita rasa kampung halaman.

Menariknya, sebagian bumbu dan rempah yang digunakan masih didatangkan langsung dari Aceh. Bahkan sejumlah tanaman yang lazim digunakan dalam masakan Aceh ditanam sendiri di sekitar kediamannya.

Tanaman seperti daun kari atau on temurui, daun kelor atau on murong, serta pandan atau on seukee tumbuh di lingkungan rumahnya dari benih yang dibawa dari Aceh beberapa tahun lalu.

Upaya itu dilakukan agar cita rasa masakan yang disajikan tetap mendekati masakan asli Aceh.

Simbol Persaudaraan Diaspora Aceh

Keberadaan Cek Man menunjukkan bahwa hubungan emosional dengan tanah kelahiran tidak selalu terputus meski seseorang telah lama menetap di luar negeri.

Di tengah kehidupan Mekkah yang menjadi pusat pertemuan umat Islam dari berbagai negara, ia tetap mempertahankan identitas Aceh melalui bahasa, budaya, tradisi, dan sikap sosial kepada sesama perantau.

Rumah yang dibangunnya tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi keluarga, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi bagi masyarakat Aceh yang datang ke Tanah Suci.

Karena itu, bagi banyak jamaah dan mahasiswa asal Aceh, Cek Man bukan sekadar diaspora yang sukses menetap di Arab Saudi. Ia telah menjadi simbol persaudaraan, keramahan, dan wajah Aceh yang tetap hidup di Mekkah, jauh dari Tanah Rencong namun tetap dekat di hati masyarakat Aceh. (*)

Editor: Tim Redaksi
Penulis: Salman