“Hasil panen jangan dijual semua. Sisakan untuk kebutuhan pangan keluarga,” ujarnya.
Menurut Hendri, Abdya merupakan salah satu daerah lumbung pangan di Aceh dan menjadi penyangga kebutuhan pangan wilayah barat selatan provinsi tersebut. Kondisi ini harus dijaga, terutama pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah di Aceh.
Akibat bencana tersebut, banyak lahan sawah di beberapa kabupaten dan kota tidak dapat difungsikan secara optimal. Situasi ini dinilai akan berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga gabah ke depan.
“Kondisi ini tentu sangat berpengaruh terhadap harga gabah nantinya. Karena itu, kami meminta petani agar tetap menyisakan hasil panen untuk kebutuhan pangan keluarga,” ujar Hendri.
Terkait penyerapan gabah, Hendri menyebutkan, saat ini Perum Bulog Blangpidie belum berkewajiban melakukan pembelian. Hal itu disebabkan harga gabah di tingkat petani masih berada di atas HPP.
“Jika nanti harga gabah turun di bawah HPP, maka Bulog berkewajiban membeli gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram,” katanya.
Hendri menambahkan, masa panen MT Rendengan diperkirakan berlangsung hingga Maret 2026. Sementara itu, pelaksanaan MT Gadu 2026 direncanakan dimulai pada April mendatang.
“MT Gadu 2026 akan kita laksanakan pada bulan April, kecuali di Kecamatan Babahrot, karena petani di sana baru selesai tanam setelah jaringan irigasi selesai diperbaiki,” ujar Hendri.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Abdya akan terus berupaya membangun dan memperbaiki sarana serta prasarana pertanian. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung peningkatan produksi dan menjaga ketahanan pangan daerah ke depan.
“Pemerintah Abdya akan terus bekerja maksimal untuk membangun dan memperbaiki seluruh sarana dan prasarana sektor pertanian, sehingga produksi panen akan terus meningkat kedepannya,” pungkas Hendri (*)
