Blangpidie – Baitul Mal Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) meninjau kondisi rumah Munarwati (36), seorang janda dengan dua anak yang tinggal di hunian tidak layak di Gampong Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Kamis (16/4/2026).
Rumah yang ditempati Munarwati berkonstruksi kayu, berdinding terpal plastik dan beratap daun rumbia. Tidak memiliki kamar tidur, hanya polos seadanya.
Tim yang turun ke lokasi terdiri dari anggota Badan Baitul Mal Salman Syarif dan Tgk Syamsuar Dana, Dewan Pengawas Tgk Muhammad Maimun, serta Kepala Sekretariat Bustari.
Pihak Baitul Mal turut didampingi Keuchik Gampong Lhok Pawoh, Amiruddin.
Kepala Sekretariat Baitul Mal Abdya, Bustari, menyebut kondisi rumah yang ditempati Munarwati sangat memprihatinkan. Bangunan terbuat dari kayu dengan dinding plastik dan atap rumbia.
Bustari menilai struktur rumah tersebut tidak layak untuk ditempati, terutama saat cuaca buruk. Karena itu, pihaknya akan berupaya memprioritaskan rumah baru untuk keluarga Munarwati.
“Kondisi rumah ibuk Munarwati sangat memperihatinkan, konstruksi bangunan dari kayu, dindingnya dari terpal plastik, dan beratap daun rumbia. Sangat tidak layak ditempati. Dan kami segera melaporkan hal ini kepada pak Bupati,” ujarnya.
Bustari menambahkan, Munarwati telah masuk dalam data penerima bantuan Baitul Mal. Kunjungan lapangan dilakukan untuk memastikan kesesuaian data dengan kondisi di lapangan.
“Datanya sudah masuk ke Baitul Mal, dan hari ini kita jadwalkan turun melakukan verifikasi langsung kelayakan bantuan yang akan diterima,” kata Bustari.
Dalam kesempatan itu, Baitul Mal juga meminta pemerintah gampong Lhok Pawoh agar membantu melengkapi dokumen persyaratan bantuan rumah layak huni bagi keluarga Munarwati.
“Insyaallah, mulai hari ini semua persyaratan akan kita lengkapi dan segera kami serahkan ke kantor Baitul Mal Kabupaten Abdya. Kami berharap pemerintah dapat membangun hunian yang layak bagi keluarga buk Munarwati,” pinta Keuchik Amiruddin.
Munarwati diketahui telah setahun terakhir menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal dunia. Ia tinggal bersama dua anaknya, masing-masing masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar dan balita berusia 2 tahun.
“Suami saya meninggal tahun lalu, bulan September 2025. Kami tinggal dirumah ini hampir 4 tahun. Sebelumnya almarhum suami berkerja sebagai nelayan,” tambah Munarwati.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Munarwati bekerja sebagai buruh penjemur ikan teri di kawasan TPI Lhok Pawoh. Ia menerima upah sekitar Rp 20.000 per hari. Penghasilan tersebut belum mencukupi kebutuhan sehari-hari, sehingga ia juga bergantung pada bantuan keluarga dan warga sekitar.
Pada tahun 2025, ia sempat menerima santunan dari Baitul Mal Abdya.
“Yang ada terima dari Baitul Mal tahun lalu santunan miskin,” sebutnya.
Di samping rumah yang ditempati, terdapat bangunan fondasi dan tiang rumah yang belum selesai. Bangunan itu merupakan hasil pekerjaan almarhum suaminya sebelum meninggal dunia.
Kini, konstruksi bangunan tersebut terbengkalai karena keterbatasan biaya. Munarwati berharap pembangunan rumah itu dapat dilanjutkan melalui bantuan pemerintah agar keluarganya bisa tinggal di rumah yang lebih layak. (*)


Tinggalkan Balasan