Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (2/6/2026).

Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.848 per dolar AS, berdasarkan pantauan sekitar pukul 21.36 WIB malam.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam tekanan seiring meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global dan sentimen domestik yang belum mampu memberikan dorongan penguatan.

Berdasarkan data perdagangan, posisi penutupan rupiah tersebut melemah 34 poin atau sekitar 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.810 per dolar AS pada Senin (1/6/2026).

Pelemahan rupiah juga terjadi bersamaan dengan tekanan yang dialami sejumlah mata uang Asia lainnya di tengah menguatnya dolar AS di pasar global.

ADVERTISEMENT

Pengamat pasar keuangan sekaligus Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi oleh meningkatnya angka inflasi nasional pada Mei 2026 yang berada di atas ekspektasi pasar.

Menurutnya, data inflasi tersebut memunculkan perkiraan bahwa Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu mendatang.

ADVERTISEMENT
Mata uang Indonesia ditutup di level Rp17.848 per dolar AS, berdasarkan pantauan pada Selasa (2/6/2026) malam sekitar pukul 21.36 WIB. Tangkap layar search google.

“Lonjakan pada inflasi bulan Mei meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga BI dan meredam permintaan pada SBN,” jelas Lukman kepada wartawan, Selasa.

Ia menjelaskan, meningkatnya ekspektasi kenaikan BI Rate membuat sebagian pelaku pasar mengambil sikap lebih hati-hati dalam menempatkan dana investasinya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Saat inflasi meningkat, investor cenderung mempertimbangkan kembali potensi imbal hasil riil yang dapat diperoleh dari instrumen investasi domestik.

Selain faktor inflasi, penguatan indeks dolar AS juga menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah. Pada perdagangan global sebelumnya, indeks dolar tercatat menguat sehingga memberikan dampak langsung terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

ADVERTISEMENT

Meski penguatan dolar sempat mereda pada pertengahan hari, rupiah belum mampu berbalik menguat karena minimnya sentimen positif dari dalam negeri maupun pasar internasional.

Lukman menilai pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah.

“Sentimen rupiah akan kembali didikte oleh perkembangan seputar geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya.

Menurutnya, ketegangan geopolitik biasanya mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven. Kondisi ini berpotensi mengurangi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berpeluang berlanjut apabila ketidakpastian global tetap tinggi dan belum ada sentimen domestik yang cukup kuat untuk menopang penguatan mata uang nasional. (*)

Editor: Salman
Sumber: Suara.com