Banda Aceh – Penanganan dan penggalangan dana bencana di Indonesia dinilai masih berputar pada pola reaktif yang seragam.

Setiap kali musibah terjadi, penggalangan dana dibuka oleh tokoh atau lembaga tertentu, disalurkan, lalu selesai tanpa ada skema pendanaan yang berkelanjutan.

Hal tersebut dikritik oleh Konsultan Pendidikan dan Karier sekaligus Founder Jurusanku, Ina Liem.

Melalui unggahan di akun TikTok pribadinya @inaliem.jurusanku, Ina menyentil pola lama penggalangan bantuan yang dinilainya rawan penyelewengan serta minim transparansi.

“Setiap kali ada bencana, polanya hampir selalu sama. Muncul tokoh, buka donasi, kumpulkan uang, salurkan bantuan, lalu selesai. Nanti ada bencana lagi, muncul penggalangan dana lagi,” ujar Ina Liem dikutip dari akun TikTok miliknya, Jumat (2/10/2026).

ADVERTISEMENT

Ina mengajak publik untuk berpikir lebih inovatif agar program bantuan sosial dibangun lebih sustainable atau berkelanjutan.

“Kenapa program bantuan tidak dibangun supaya lebih sustainable? Kan bencana selalu terjadi dari waktu ke waktu,” katanya.

ADVERTISEMENT

“Apalagi kita juga harus berani mengakui bahwa bencana bisa menjadi panggung untuk menaikkan nama tokoh tertentu. Dan tanpa transparansi yang kuat, selalu ada ruang untuk penyalahgunaan,” tegas Ina Liem.

Sebagai solusi, Ina Liem mendorong pembentukan sistem yang mampu menghasilkan dana sosial secara terus-menerus, bahkan di saat tidak ada bencana.

Ia mencontohkan praktik yang banyak diterapkan di institusi pendidikan luar negeri.

“Di beberapa kampus luar negeri misalnya, fakultas memiliki unit layanan yang terbuka untuk publik sekaligus menjadi tempat praktik mahasiswa. Ada layanan teknologi, desain studio, konseling klinik, market research, dan berbagai layanan lainnya. Uniknya, ini dikelola institusi,” jelas Ina.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, skema ini memberikan manfaat berlipat, yakni mahasiswa mendapatkan pengalaman menghadapi klien nyata di bawah supervisi pengajar, masyarakat memperoleh layanan terjangkau, dan institusi memperoleh pendapatan (revenue).

Bahkan, sebut Ina, konsep serupa juga diterapkan pada tingkat sekolah menengah.

“Waktu saya mengunjungi beberapa SMA di Kanada, mereka punya ekstrakurikuler seperti salon dan bengkel yang juga terbuka melayani publik. Jadi pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, mereka menciptakan value yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” tambahnya.

Ina membayangkan jika sebagian atau seluruh revenue dari unit-unit usaha/layanan tersebut rutin dialokasikan sebagai dana bantuan permanen, maka kesiapan mengatasi bencana akan jauh lebih matang.

“Bayangkan kalau kampus, sekolah, komunitas, organisasi mulai membangun mekanisme serupa. Bukan menunggu bencana baru mencari uang. Ketika bencana terjadi, dananya sudah tersedia,” tuturnya.

Lebih dari sekadar kesiapan dana, menurut Ina, skema ini dinilai mampu mentransformasi mentalitas masyarakat.

“Mentalitas yang kita tanamkan pun berbeda: ‘Saya bekerja, saya menciptakan value, saya menghasilkan uang, lalu saya menyumbangkan hasilnya untuk membantu orang lain, bukan selalu Saya meminta uang dari orang lain, saya menyalurkannya, lalu nama saya yang muncul sebagai penggalang bantuan,” pungkas Ina.

Di akhir videonya, Ina juga menekankan pentingnya membiasakan laporan keuangan yang transparan demi mendidik integritas sejak dini. (*)

Editor: Salman Sy
Penulis: Kamalia Putri