– Di setiap sudut Aceh, aroma rempah yang kuat seolah menjadi bahasa sehari-hari yang menyatukan warganya. Dari warung sederhana hingga dapur rumah tangga, kuliner Aceh selalu menyuguhkan kelezatan yang berpadu dengan sejarah dan filosofi hidup masyarakatnya.
Salah satu hidangan yang menjadi kebanggaan sekaligus identitas kuliner Tanah Rencong adalah “Kuah Pliek U” sajian tradisional berbahan dasar kelapa fermentasi yang kaya rasa dan makna.
Bagi masyarakat Aceh, Kuah Pliek U bukan sekadar menu makan nasi. Hidangan ini menjadi simbol keakraban, gotong royong, dan rasa syukur. Ia selalu hadir dalam setiap kenduri, pertemuan keluarga, hingga acara adat.
Rasa gurih dan sedikit asamnya pada gulai Pliek U yang khas membuat siapa pun yang mencicipinya seolah kembali pada memori masa kecil di kampung halaman.
Nama Pliek U sendiri diambil dari hasil fermentasi ampas kelapa yang telah diperas santannya. Ampas itu dijemur di bawah terik matahari hingga kering, lalu difermentasi selama beberapa hari hingga mengeluarkan aroma khas.
Dari proses alami tersebut muncul cita rasa gurih yang tidak bisa ditiru bahan lain — perpaduan sempurna antara kelapa, rempah, dan sensasi asam alami yang menggugah selera.
Dalam penyajiannya, Kuah Pliek U biasanya dimasak bersama beragam sayuran lokal seperti daun melinjo, kacang panjang, nangka muda, terong hijau, hingga rebung. Kombinasi ini membuatnya kaya serat dan nutrisi.
Sementara bumbunya yang lengkap—mulai dari jahe, kunyit, hingga asam sunti—menambah kedalaman rasa pada setiap suapan. Rasanya kompleks: gurih, pedas, segar, dan sedikit asam, berpadu dalam harmoni yang khas Aceh.
Menurut laman AcehTourism.travel, proses memasak Kuah Pliek U memerlukan ketelatenan dan kecintaan pada tradisi. Bahan utama seperti kacang panjang, daun melinjo, nangka muda, hingga udang segar dimasak bersama racikan bumbu giling dan bumbu rajang yang menggugah selera.
“Kuncinya ada pada Pliek U dan santan. Jangan sampai santannya pecah,” begitu pesan banyak ibu-ibu di dapur Aceh ketika mengajarkan resep turun-temurun ini.
Prosesnya dimulai dengan menggongseng Pliek U hingga harum, lalu diblender hingga halus. Setelah itu, berbagai sayuran direbus, diaduk bersama bumbu halus, santan, serta bahan pelengkap seperti udang dan kikil.
Saat kuah mulai mendidih dan aroma rempah menguar ke udara, daun jeruk dan kangkung dimasukkan sebagai sentuhan akhir.
Hasilnya adalah semangkuk kuah berwarna keemasan dengan aroma rempah yang menenangkan. Setiap sendokannya menyuguhkan lapisan rasa yang rumit namun menyatu indah — gurih dari kelapa, segar dari sayuran, dan sedikit asam yang menyeimbangkan semuanya. Disajikan hangat dengan nasi putih, Kuah Pliek U terasa seperti pelukan lembut dari rumah sendiri.
Lebih dari sekadar masakan, Kuah Pliek U adalah cerita tentang waktu, kebersamaan, dan identitas. Setiap tetes kuahnya membawa kisah tentang ibu-ibu yang sabar di dapur, tentang aroma yang membangunkan kenangan masa kecil, dan tentang tradisi Aceh yang tetap hidup di antara rebusan rempah dan santan. Sebuah warisan rasa yang tak lekang oleh zaman — dan selalu membuat siapa pun rindu untuk pulang. ***


