Blangpidie – Sejumlah petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengeluhkan kesulitan memperoleh pupuk subsidi, terutama jenis urea dan NPK Phonska, di kios-kios pengecer setempat.

ADVERTISEMENT

Samsul, petani asal Kecamatan Tangan-Tangan, mengungkapkan bahwa pupuk subsidi kini semakin sulit ditemukan di pasaran.

Padahal, kata Samsul, ia bersama petani lainnya sedang berada pada masa pengembangbiakan anakan padi yang membutuhkan pemupukan lanjutan secara tepat waktu.

ADVERTISEMENT

“Untuk pemupukan pertama sudah kita lakukan sekitar tiga pekan lalu. Sementara, memasuki pemupukan kedua mulai kesulitan mendapatkan pupuk,” kata Samsul, Rabu (31/12/2025).

“Kita tidak tau persis apa sebabnya pupuk bisa kosong di gudang-gudang kios pengecer,” sambungnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Samsul, berbagai upaya telah dilakukan untuk mendapatkan pupuk subsidi tersebut, termasuk mencarinya hingga ke kabupaten tetangga Aceh Selatan dan Nagan Raya. Namun, hasilnya stok pupuk subsidi juga sulit ditemukan di wilayah tersebut.

“Kalau yang non subsidi ada, tapi kita tidak mampu membelinya. Makanya kita beharap pada subsidi itu,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Ia berharap pemerintah segera turun tangan mencari solusi atas kelangkaan pupuk subsidi yang terjadi. Terlebih, selama ini kuota pupuk subsidi untuk Abdya disebut-sebut mencukupi kebutuhan petani, sehingga kondisi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan petani.

“Kalau dibiarkan terlalu lama tanpa pupuk, bisa saja padi akan mudah terserang penyakit bahkan batangnya kerdil hingga mengurangi penghasilan,” tuturnya.

Keluhan sama juga disampaikan Darmi, petani lainnya di Kecamatan Tangan-Tangan. Ia menyebutkan bahwa tanaman padi saat ini mulai banyak diserang hama ulat, sehingga selain penyemprotan insektisida, dukungan pupuk yang memadai sangat dibutuhkan untuk memulihkan dan mempercepat pertumbuhan tanaman.

“Padi yang sudah terbebas dari hama ulat dan berangsur pulih, mesti dibantu dengan pupuk agar anakannya semakin berkembang,” ujarnya.

Darmi menilai kelangkaan pupuk subsidi kali ini terasa lebih berat dibandingkan awal masa tanam. Pada saat itu, pupuk urea dan NPK Phonska masih relatif mudah diperoleh, namun kini nyaris tidak tersedia di kios-kios pengecer.

“Semestinya pengawas bagian pupuk ini mesti segera turun tangan agar tidak ada yang mencoba mempermainkan atau menimbun pupuk,” harap Darmi.

Darmi bersama petani lainnya juga mendesak agar proses penyaluran pupuk ke Abdya dapat dipercepat tanpa harus menunggu jadwal resmi. Pasalnya, sebagian tanaman padi telah berusia lebih dari sebulan dan bahkan belum mendapatkan pupuk sama sekali.

“Kami berharap dipercepat proses penyaluran pupuk ke Abdya. Karena sudah sebulan usia padi bahkan ada yang belum mendapatkan pupuk sama sekali. Bagaimana pertumbuhan padi kalau seperti ini. Tolonglah dipercepat proses pendistribusian, jangan menunggu jadwal,” demikian sambungnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, Hendri Yadi, mengatakan bahwa pupuk subsidi tahap berikutnya dijadwalkan segera masuk ke wilayah Abdya. Untuk pupuk urea, pengiriman direncanakan pada 5 Januari, sedangkan NPK Phonska menyusul pada 10 Januari 2026.

“InsyaAllah kuota pupuk masih cukup untuk petani di Abdya, cuman proses pengiriman lantaran akses yang belum teralu normal pasca bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah dalam Provinsi Aceh-Sumatra,” singkatnya via phonsel kepada wartawan. (*)

Editor: Salman