Banda Aceh – Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Aceh pada akhir November 2025 menimbulkan kerugian besar bagi sektor pertanian.
Ribuan hektare lahan pertanian rusak, dengan dampak terparah terjadi pada komoditas padi sawah.
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh mencatat, total lahan sawah yang terdampak banjir mencapai 89.582 hektare Angka ini setara hampir setengah dari total luas baku sawah Aceh yang mencapai 202.811 hektare.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah, mengatakan tidak seluruh lahan yang terdampak masih dapat diselamatkan. Dari puluhan ribu hektare sawah yang terendam, hanya sebagian yang masih memungkinkan untuk kembali ditanami.
“Dari 89.582 ha yang terkena, yang masih bisa ditanami padi itu 62.517 hektare. Sementara itu, yang tidak bisa ditanami padi lagi ada 27.065 hektare karena tertutup lumpur,” ujar Cut Huzaimah, dikutip Selasa (23/12/2025).
Ia menjelaskan, lumpur yang mengendap di lahan pertanian memiliki ketebalan antara satu hingga 1,5 meter. Kondisi ini membuat sawah kehilangan struktur tanah dan tidak lagi layak untuk ditanami dalam waktu dekat.
Berbeda dengan banjir pada umumnya, banjir kali ini disertai material lumpur yang merusak tanaman secara menyeluruh. Akibatnya, hampir seluruh padi yang terendam mengalami gagal panen atau puso.
“Banjir kali ini memang puso semua yang ditanam karena dia diiringin oleh lumpur. Biasanya, bencana banjir itu airnya surut, kalau padi tergenang tiga hari itu tidak ada masalah. Kalau ini memang puso dan tidak mungkin diselamatkan lagi,” kata Cut Huzaimah.
Dampak kerusakan tersebut berujung pada kerugian ekonomi yang sangat besar bagi petani. Pemerintah Aceh memperkirakan nilai kerugian sementara khusus untuk sektor persawahan telah menembus lebih dari Rp 1 triliun.
“Estimasi kerugian untuk sawah sudah mencapai Rp 1,164 triliun,” ujar Cut Huzaimah.
Ia menambahkan, banyak petani sebenarnya sudah memasuki masa panen. Namun, hujan deras yang terus mengguyur dan banjir yang datang secara tiba-tiba membuat seluruh hasil panen gagal diselamatkan.
Selain padi, sejumlah komoditas pertanian lainnya juga terdampak. Lahan jagung seluas 767 hektare di empat kabupaten terendam banjir, sementara tanaman hortikultura seperti cabai, bawang, dan kentang rusak di lahan seluas 1.009 hektare yang tersebar di 11 kabupaten dan kota.
Kerusakan juga terjadi pada sektor perkebunan. Komoditas kakao, kelapa, dan kopi terdampak banjir di lahan seluas 13.023 hektare.
Secara keseluruhan, luas lahan pertanian dan perkebunan yang telah dilaporkan ke Posko Tanggap Darurat mencapai 14.799 hektare, termasuk jagung dan komoditas lainnya.
Meski demikian, Cut Huzaimah menegaskan data tersebut masih bersifat sementara. Proses pendataan di lapangan masih terus berlangsung seiring upaya penanganan pascabencana.
“Angka ini belum final dan masih bisa berubah karena pendataan terus bergerak,” katanya. (*)


