Oleh: Fakhrurrazi, M.Pd
(Dosen Sains Islam-Prodi Pendidikan IPA Universitas Serambi Mekkah)
Tujuan Allah menciptakan Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan dan mengajarkan akhlak kepada umat manusia. Ini menjadi alasan utama kenapa Rasul diutus ke dunia. Ketika Rasulullah SAW wafat, banyak sahabat yang merasa kehilangan dan diliputi kesedihan yang mendalam.
Sayidina Umar bin Khattab kehilangan kendali emosinya dan berniat memenggal siapa saja yang mengatakan Rasulullah telah wafat. Sayidina Ali bin Abi Thalib kehilangan kekuatan untuk berdiri, tubuhnya lemas seketika saat mendengar kabar duka tersebut. Sayidina Utsman bin Affan tidak mampu berkata apa-apa, suaranya yang biasa merdu hilang.
Ada sahabat yang berdoa agar matanya dibutakan karena tidak ingin melihat dunia tanpa kehadiran Rasulullah Ia bernama Saydina Tsauban. Kemudian ada sahabat Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah karena tak sanggup tinggal di kota yang kini tak lagi ditempati Nabi. Sayidah Hafsah, istri Nabi, memilih untuk tidak pernah menutup jendela rumahnya lagi.
Betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW sehingga banyak yang berharap dapat selalu bersamanya meski beliau telah tiada.
Lalu bagaimana keadaan pra Rasulullah?
Sebelum kelahiran Rasulullah SAW, masa yang dikenal sebagai zaman jahiliyah dipenuhi dengan berbagai tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Penindasan, perbudakan, serta pertumpahan darah terjadi begitu saja, seakan nyawa manusia tak ada harganya. Hak-hak rakyat dirampas oleh para penguasa zalim. Banyak penguasa dan orang-orang kaya yang memandang mereka yang kurang beruntung sebagai budak, tanpa ada sedikitpun perasaan kemanusiaan.
Di Jazirah Arab, peperangan antar kabilah sering terjadi, menghancurkan keluarga dan bangunan. Salah satu kebiadaban yang luar biasa adalah kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup karena dianggap aib, pembawa sial, membawa kemiskinan bagi keluarga, alas an yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Kendati Jazirah Arab dikenal dengan seni sastra yang indah, syair dan retorika bahasa yang tinggi, namun mereka buta mata hati, tidak mengenal tauhid, dan menolak kebenaran agama.
Dari sisi keyakinan, mereka terpecah dalam banyak kelompok. Ada yang menyembah binatang, batu, pohon, binatang, bahkan matahari. Beberapa bahkan membuat patung untuk disembah. Dunia pada masa itu gelap gulita, penuh kekacauan, hingga seakan-akan bumi memohon kepada Allah untuk diselamatkan dari petaka ini.
Allah mengabulkan permohonan tersebut dengan mengutus seorang Rasul yang mulia, Nabi Muhammad SAW, dari kabilah dan rumah terbaik, pemilik akhlak yang luhur dan tinggi.
Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 571 M di Makkah. Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum kelahirannya, saat berusia enam tahun, ibunya (Aminah binti Wahab) meninggal dunia.
Setelah itu, Nabi diasuh oleh kakeknya, hingga beberapa tahun kemudian kakeknya pun meninggal, dan Nabi dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Ayahnya tidak meninggalkan harta kecuali lima ekor unta, beberapa kambing dan seorang budak perempuan.
Rasulullah SAW tumbuh dengan akhlak mulia meskipun dalam keadaan yatim dan fakir. Di antara akhlaknya yang terpuji adalah senyum dan keramahan ketika bertemu sahabat, menjabat tangan mereka, rendah hati terhadap anak kecil maupun orang dewasa, termasuk kerendahatinya adalah apabila beliau berjalan melewati anak-anak kecil, maka beliau memberi salam kepada mereka serta selalu mengutamakan orang lain di atas dirinya sendiri.
Rasulullah SAW sangat menghormati tetangga dan selalu berbagi dengan mereka. Salah satu sabdanya adalah, “Apabila engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu.” Beliau adalah orang yang paling pemurah dan selalu memberi kepada orang yang meminta sesuatu darinya. Apabila tidak ada sesuatu darinya maka beliau berjanji untuk memberinya di lain waktu.
Dalam persahabatan, Rasulullah memandang hubungan tersebut sebagai hubungan yang tidak pernah terputus.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya memelihara persahabatan termasuk pengamalan iman.” Sifat dermawan beliau begitu tinggi, bahkan ketika menyembelih kambing, dagingnya dibagikan kepada teman-temannya. Jika ada yang memberikan hadiah, beliau sering mengirimkannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
Rasulullah SAW juga sangat perhatian terhadap sahabat-sahabatnya. Jika selama tiga hari tidak bertemu dengan mereka, beliau akan menanyakan kabarnya, dan jika sahabatnya sakit, beliau akan menjenguknya.
Rasulullah juga selalu menepati janji dan sangat melarang keras ketidakjujuran (tidak menepati janji). Beliau menjaga kebersihan dan kerapian dalam segala hal, termasuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Sebagaimana sabdanya “Kebersihan itu sebagian dari iman.”
Dari akhlak Nabi SAW ini, kita bisa memahami betapa tinggi dan mulianya akhlak beliau. Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang terbaik akhlaknya.
Allah Ta’ala memuji beliau dalam firman-Nya: “Sungguh engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Allah ta’ala menjadikannya sebagai teladan bagi kaum muslimin baik dalam perkataan maupun perbuatannya, sebagaimana firman Allah: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan adab dan akhlak, sebagaimana sabdanya: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Demikianlah akhlak Rasulullah SAW kehadirannya di muka bumi adalah rahmat bagi seluruh alam. Kita patut memperbanyak shalawat kepada Rasulullah dan mengikuti keteladanan beliau.
Kita memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa: “Wahai Tuhanku, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan yang kekal kepada kekasih-Mu, sebaik-baik makhluk seluruhnya”. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya pada hari kiamat nanti. Amin.***
Penulis adalah Dosen Sains Islam Program Studi Pendidikan IPA, Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh.
