Jombang – Tongkat kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi berganti.
KH Abdul Hakim atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Kepastian ini didapat usai sembilan anggota Ahlu Halli wal Aqdi (AHWA) mencapai musyawarah mufakat dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang digelar pada Senin (31/8/2026).
Momen bersejarah tersebut berlangsung di Dalem KH Wahab Hasbullah, Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, bertepatan dengan 18 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Penetapan ini mengukir sejarah baru bagi perjalanan Nahdlatul Ulama. Pasalnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, penentuan pucuk pimpinan PBNU dilakukan langsung melalui mekanisme AHWA.
Anggota AHWA, KH Anwar Iskandar menegaskan, penerapan mekanisme ini menjadi bagian dari terobosan dan proses baru dalam menentukan arah kepengurusan PBNU ke depan.
“Dan ini adalah mekanisme yang pertama kita lakukan di dalam pengurusan atau pemilihan kepengurusan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini,” ujar Kiai Anwar saat membacakan hasil keputusan resmi AHWA di hadapan para muktamirin.
Sepakat dari 5 Nama Calon
Kiai Anwar menjelaskan, sebelum keputusan final diambil, sembilan kiai sepuh yang tergabung dalam AHWA terlebih dahulu mendiskusikan lima nama calon Ketua Umum PBNU yang berhasil lolos dari tahap penjaringan.
Setelah melalui proses pertimbangan yang matang, seluruh anggota AHWA sepakat bulat untuk menunjuk Gus Kikin.
“Setelah melakukan musyawarah dari lima nama calon yang diajukan, maka anggota Ahlu Halli wal Aqli secara mufakat memutuskan untuk memilih KH Abdul Hakim—atau sehari-hari disebut Gus Kikin—menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031,” tegas KH Anwar Iskandar.
Keputusan krusial tersebut kemudian disahkan melalui Berita Acara Pemilihan dan Penetapan Ketua Umum PBNU yang ditandatangani langsung oleh sembilan kiai ulung anggota AHWA.
Adapun sembilan ulama besar yang membubuhkan tanda tangan tersebut yakni:
1. KH Nurul Huda Djazuli
2. KH Miftachul Choer (Miftachul Akhyar)
3. KH Dr. Badruddin
4. KH Anwar Manshur
5. KH Afifuddin Muhajir
6. Muhammad Anwar Iskandar
7. KH Nurul Zahril Yahya
8. KH Abun Bunyamin
9. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj
Seluruh Kandidat Mengantongi Restu Rais Aam
Dalam kesempatan itu, KH Anwar Iskandar juga memberikan catatan penting untuk mendinginkan suasana dan menjaga kesejukan di tubuh Nahdliyin.
Ia menegaskan bahwa kelima kandidat yang sempat masuk dalam bursa calon Ketua Umum semuanya merupakan sosok-sosok terbaik yang telah mengantongi restu dari Rais Aam PBNU terpilih.
“Hadirin muktamirin yang saya mulyakan, ada catatan penting yang perlu kita pahami bersama, bahwa lima yang mengikuti penjaringan calon-calon Ketua Umum semua direstui dan diberi restu oleh Rais Aam terpilih,” ungkapnya.
Dengan demikian, penunjukkan Gus Kikin oleh AHWA sama sekali tidak menafikan proses demokrasi maupun peran para calon lain yang ikut mewarnai bursa kepemimpinan PBNU.
Wajib Tanda Tangan Pakta Integritas
Menyongsong periode kepengurusan 2026–2031, para pimpinan terpilih bakal langsung dihadapkan pada tanggung jawab besar.
Guna memastikan roda organisasi berjalan profesional dan teguh pada prinsip, jajaran pengurus baru nantinya diwajibkan untuk menandatangani pakta integritas.
“Dan pengurus yang sekarang ini diputuskan, dipilih, dan ditetapkan oleh Ahlu Halli wal Aqli akan menandatangani sebuah pakta integritas Nahdlatul Ulama, sehingga akan berjalan dengan sebaik-baiknya dalam menakhodai NU ke depan,” jelas KH Anwar.
Selain menetapkan Ketua Umum, AHWA juga telah merumuskan sejumlah poin rekomendasi strategis. Rekomendasi ini nantinya menjadi panduan penting bagi tim formatur dalam menyusun komposisi struktur jajaran PBNU lima tahun mendatang.
Kini, setelah ketok palu Muktamar ke-35 NU dibunyikan, tantangan terbesar Gus Kikin adalah merangkul seluruh elemen warga Nahdliyin serta menerjemahkan hasil-hasil muktamar ke dalam program kerja nyata. (*)



