Sepekan Lebih Ivansi Ukraina, Pasukan Rusia Masih Tak Mampu Rebut Kyiv

Pasukan Rusia dilaporkan terus merangsek wilayah-wilayah utama Ukraina dan kini semakin mendekati Ibu Kota Kiev. (Foto: REUTERS/CARLOS BARRIA)

GLOBAL INTERNASIONAL – Sejak Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan menyerang Negara Ukraina, Kamis (24/2/2022) lalu, pasukan Moskow masih belum mampu menduduki Ibu Kota Ukraina, Kyiv.

Meski Rusia telah menguasai beberapa kota Ukraina lain, seperti Kherson. Kini, pasukan Moscow itu dikabarkan masih terjebak di luar kota Kharkiv dan Kyiv.

Bacaan Lainnya

Menurut Atlantic Council, ada beberapa alasan pasukan Rusia masih tak bisa menduduki ibu kota Ukraina. Salah satunya, Rusia gagal menciptakan superioritas langit di Ukraina dan membuat kubunya kehilangan banyak pesawat tempur dan helikopter.

Selain itu, pasukan yang dikerahkan untuk menyerang Kyiv, Kharkiv, dan kota di utara Crimea masih tak cukup banyak. Rusia juga harus berhadapan dengan perlawanan masyarakat Ukraina yang keras, koordinasi buruk antara regu penembak dan manuver, dan mengalami masalah logistik signifikan.

Di sisi lain, perang kota yang terjadi di beberapa wilayah Ukraina membuat kubu Kyiv masih memiliki keuntungan, mengingat mereka menguasai medan tempur.

Pasukan Ukraina tahu persis di mana tempat perlindungan yang aman bila serangan udara dari Rusia membombardir kota mereka.

Sementara itu, seorang pengamat menilai rencana invasi Rusia terlihat tak berjalan lancar, membuat negara itu harus mengubah strategi perang mereka.

“Rusia memulai ini dengan apa yang saya sebut Rencana B yaitu melakukannya dengan cara yang akan dilakukan pasukan Barat,” kata mantan direktur jenderal Royal United Services Institute (RUSI) dan seorang analis keamanan, Michael Clarke, dikutip dari Sky News.

“Dengan pasukan yang relatif ringan bergerak cukup cepat dari perbatasan untuk mengepung daerah-daerah utama dan bergerak cepat di Kyiv, singkirkan pemerintah, nyatakan diri mereka sebagai pemerintah baru dan itu semua seharusnya dilakukan dalam waktu 72 jam,” tambahnya.

Namun, rencana ini tak berhasil dilakukan karena perlawanan pasukan Ukraina yang gigih.

“Sekarang mereka (Rusia) menggunakan Rencana A, yang mereka tahu bagaimana caranya, yaitu bergerak lebih lambat dengan armada yang lebih berat: armada pengepungan, seperti yang mereka katakan, menuruni lembah Dnieper, untuk mengepung kota-kota besar,” jelas Clarke.

Menurut Clarke, strategi tersebut akan menyulitkan Ukraina karena negara itu harus berusaha mempertahankan kota-kota mereka.

Rusia disebut akan mengepung sejumlah kota besar di Ukraina, salah satu caranya adalah dengan menargetkan sumber energi, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia. Tanpa listrik dan pemanas, sulit bagi pejuang Ukraina bertahan.

Tak hanya itu, pasukan Ukraina harus bertahan di tengah ancaman stok logistik yang kian menipis. (**)

Sumber: CNN Indonesia

Pos terkait

Plt Ketua DPRA Safaruddin ucapan selamat Idul Fitri 1443 H