Blangpidie – Saluran irigasi yang patah memicu banjir luapan di Gampong Paya, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Akibatnya, sekitar 10 hektar lahan sawah yang baru memasuki musim tanam terendam air dan terancam gagal tanam.

Genangan air luapan yang tak kunjung surut ini dipicu oleh kerusakan fisik infrastruktur pengairan, yakni patahnya dinding saluran sepanjang 70 meter dari total 300 meter jaringan irigasi di desa setempat.

Kerusakan tersebut membuat debit air meluap tidak terkendali ke area persawahan warga, alih-alih mengalir secara teratur sesuai kebutuhan petak sawah.

Kondisi ini kian menyulitkan para petani karena air yang mengendap terlalu lama memicu ledakan hama keong mas. Hewan pengganggu tersebut kini mulai merusak dan menggerogoti benih padi yang baru saja ditanam, sehingga kerugian para petani di wilayah tersebut dipastikan berlipat ganda.

Sekretaris Desa (Sekdes) Paya, Zikri, membenarkan terjadinya musibah yang melanda warganya tersebut. Ia menyebut tingkat kerusakan infrastruktur di momen krusial ini membuat petani berada dalam posisi yang sangat sulit.

ADVERTISEMENT

“Kondisi di lapangan saat ini benar-benar memprihatinkan bagi para petani kami. Kerusakan irigasi ini terjadi di momen yang paling krusial, yaitu saat memasuki masa tanam di mana sawah seharusnya membutuhkan pengaturan air yang stabil, bukan malah terendam banjir seperti ini. Patahnya saluran sepanjang 70 meter itu membuat air meluap tanpa arah dan menggenangi sekitar 10 hektare sawah warga,” ujar Zikri, Sabtu (18/7/2026).

Zikri menambahkan bahwa ancaman yang dihadapi petani saat ini adalah potensi gagal tanam total. Genangan air yang dalam dalam waktu lama menciptakan habitat ideal bagi keong mas untuk berkembang biak dengan sangat cepat dan masif.

ADVERTISEMENT

“Kami atas nama pemerintah desa dan mewakili seluruh masyarakat tani di Gampong Paya sangat berharap adanya langkah darurat dan perhatian serius dari Dinas Pertanian maupun PUPR Abdya. Kami mohon agar saluran yang patah ini segera diperbaiki, karena jika ditunda-tunda, dampak kerugian ekonomi yang harus ditanggung oleh para petani kami akan jauh lebih besar,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, para petani setempat hanya mampu melakukan penanggulangan seadanya secara mandiri. Mereka berupaya menyelamatkan sisa bibit padi dari serangan hama keong mas di tengah rendaman air irigasi, sembari menantikan respons cepat dan perbaikan dari instansi terkait. (*)

Editor: Fakhrul Razi
Penulis: Salman Sy