Iklan - Scroll ke bawah untuk baca artikel
Komunitas MenulisPuisi

PUISI: Aku Rindu Hari Kemarin

658
×

PUISI: Aku Rindu Hari Kemarin

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi di tepi pantai (kompasiana/Arumsilviani.com)

Oleh : Irfan Lilla Banguna

Disebuah pantai ombak bernyanyi nyiur melambai
Gemulainya biduk nelayan disapa alunan gelombang

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Resahnya sang angin menciumi pucuk-pucuk cemara dengan mesra
Diiringi senandung merdu camar-camar jalang

Aku rindu hari kemaren…!
Menyusuri tepian pantai bersama kekasih yang tak pernah terungkap
Belajar arti cinta dan kehidupan
Pada butiran-butiran pasir dan kerang-kerang yang membisu kusam

Baca Juga :   Peran Pemuda sebagai Agent Of Change

Aku rindu hari kemaren…!
Bercumbu dengan gadis-gadis pantai yang lugu bersahaja
Membakar kerang dengan api asmara
Menyelami samudera biru kerinduan

Aku rindu hari kemaren…!
Gadis-gadis berambut merah kusut Menyunggingkan senyuman kemiskinan dan kepedihan
Namun kuyakin  didadamu kaya cinta dan kasih sayang

Baca Juga :   Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang

Aku rindu semua itu
Bersamamu kita lewati hari-hari dengan penuh arti
Meniti garis-garis pantai
Sambil menikmati petikan kecapi bahari

Tsunami melamar dengan mas kawin kematian
Gadis pantai itu pergi
Beserta iringan pengantin kedukaan dan arakan tarian kepiluan

Tinggalkan aku bersama Lumpur-lumpur kelukaan
Sepi mencekam tanpamu menemani
Pantai kenangan itu telah hilang, hancur dan tenggelam

Baca Juga :   5 Konspirasi Licik Yahudi Runtuhkan Islam

Gadis pantai  tak kutemui nisan
Tsunami merayu memeluk jasadmu didasar lautan

Aku rindu hari kemaren,
gadis berambut merah
Dengan senyuman penuh gairah
Yang tetap akan selalu dicinta
Walau dikau tak tentu rimba.

26 Desember 2004,
Pesisir Kuala Gigieng, Kajhu Aceh Besar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News