Blangpidie, Acehglobal – Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Nazli Hasan S.Ag, M.Ag, menjadi khatib pada pelaksanaan shalat gerhana bulan (shalat khusuf) berjamaah di Masjid Baitul Quddus, Gampong Pinang, Kecamatan Susoh, Minggu (7/9/2025) malam.

ADVERTISEMENT

Shalat khusuf yang dimulai sekitar pukul 00.00 WIB itu diikuti puluhan jamaah.

Dalam khutbahnya, Nazli mengangkat tema “Merasakan Detak Kekuasaan Ilahi di Balik Tirai Gerhana” dan mengajak umat Islam menjadikan peristiwa alam ini sebagai pengingat kebesaran Allah SWT.

ADVERTISEMENT

“Malam ini, kita berkumpul di bawah naungan langit, menyaksikan salah satu fenomena agung ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bulan yang biasanya menjadi hiasan malam yang indah, secara perlahan mulai ditutupi oleh bayangan, seakan-akan sang Pencipta sedang mengedipkan mata-Nya kepada kita, mengingatkan kita akan kuasa-Nya yang tak terbatas dan keagungan-Nya yang mutlak,” kata Nazli Hasan di hadapan para jamaah.

Nazli menjelaskan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan ayat kauniyah, yakni tanda kekuasaan Allah yang harus dipahami dengan iman. Untuk menegaskan hal itu, ia membacakan firman Allah SWT dalam Surat Yasin ayat 37–40, yang artinya:

ADVERTISEMENT

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka ketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.”

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

ADVERTISEMENT

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.”

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Nazli juga mengutip tafsir Syeikh Abdurrahman As-Sa’di yang menyebut ayat tersebut mengandung pelajaran besar tentang sunnatullah atau hukum alam yang Allah tetapkan. Ia menekankan, gerhana bukan tanda kekacauan, melainkan bukti berjalannya sistem yang sempurna.

“Gerhana bukanlah kekacauan, melainkan justru bukti dari bekerjanya sistem yang Maha Sempurna itu,” tegas Nazli yang juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Abdya.

Lebih jauh, Nazli mengutip pandangan Imam Al-Qurthubi bahwa keyakinan gerhana terkait kematian seseorang merupakan warisan jahiliyah yang telah dihapus oleh Islam.

“Ini adalah murni fenomena alam yang menunjukkan keagungan pengaturan Allah. Lalu, bagaimana respon iman kita?” ujarnya.

Ia kemudian membacakan hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan An-Nasa’i dan dishahihkan Al-Albani:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah menjadikan keduanya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya.”

Menurutnya, rasa takut yang dimaksud bukanlah ketakutan yang melemahkan, melainkan rasa takut positif yang membuat umat semakin dekat kepada Allah, bertaubat, dan menjauhi kemaksiatan.

“Ini adalah bentuk kasih sayang dan peringatan yang lembut dari Allah kepada hamba-hamba-Nya,” tambahnya.

Nazli juga mengajak jamaah untuk merenungi makna di balik gerhana. Ia menyinggung bagaimana cahaya keimanan sering kali tergerus oleh dosa, kelalaian, atau cinta duniawi.

“Renungkanlah hati kita. Bulan yang begitu besar dan bercahaya saja bisa ‘dilupakan’ sejenak oleh sang Surya. Lalu, bagaimana dengan cahaya keimanan dalam hati kita? Berapa sering ia ‘tergerhana’ oleh noda dosa, kelalaian, virus hasad, ujub, dan cinta duniawi yang berlebihan?” katanya.

Nazli juga mengingatkan bahwa manusia sering baru sadar akan nikmat Allah setelah kehilangan, seperti halnya cahaya bulan yang baru terasa berharganya saat hilang tertutup gerhana. Ia menekankan pentingnya syukur atas nikmat sehat, keluarga, hingga rezeki yang diberikan Allah.

Di akhir khutbahnya, Nazli mengajak jamaah membawa pulang tiga tekad utama setelah melaksanakan shalat gerhana.

Pertama, sebut Nazli, tekad merawat cahaya hati dengan memperbanyak istighfar, zikir, membaca Al-Qur’an, serta menjauhi perbuatan yang mengotori jiwa.

Kedua, katanya, tekad menjadi sumber cahaya bagi sesama dengan bersedekah, berbuat baik, dan menebarkan senyuman, serta menyelesaikan perselisihan.

Ketiga, lanjut Nazli, tekad untuk istiqamah dalam ketaatan, seperti menjaga shalat berjamaah, menjauhi larangan Allah, dan berpegang pada syariat-Nya.

“Oleh karena itu, wahai jamaah, jangan biarkan momen kekhusyukan dan ketundukan ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas yang dalam pada hati dan amal perbuatan kita. Tunduk patuhlah seperti tunduknya bulan dan matahari,” pesan Nazli. (*)

Editor: Acehglobalnews.com