Blangpidie – Program Doto Saweu Sikula atau dokter berkunjung ke sekolah yang digagas Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Salah satunya dari Ketua STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya, Afdhal Jihad.
Afdhal menilai program tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kesehatan peserta didik.
Dengan Kondisi tubuh yang sehat, sebut Afdhal, maka siswa akan lebih optimal dalam menyerap materi pelajaran sehingga berdampak pada peningkatan prestasi akademik para siswa.
“Memang ada korelasi yang sangat erat antara kesehatan jasmani dengan kemampuan anak dalam menangkap pembelajaran. Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang cerdas,” kata Afdhal saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, gangguan kesehatan, meski tergolong ringan, dapat menurunkan konsentrasi siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Akibatnya, materi yang disampaikan guru tidak dapat diterima secara maksimal oleh peserta didik.
Karena itu, Afdhal menilai pemerintah perlu memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi sejak dini, mulai dari pemenuhan gizi hingga pencegahan stunting.
Menurutnya, persoalan kesehatan anak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Dia menilai, program Doto Saweu Sikula menjadi solusi yang tepat karena pelayanan kesehatan dilakukan langsung di lingkungan sekolah.
Melalui kunjungan dokter ke sekolah, kata Afdhal, Dinas Kesehatan maupun puskesmas dapat memperoleh data yang lebih akurat mengenai siswa yang membutuhkan penanganan medis. Keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, kurang gizi, hingga anemia dinilai sering luput dari perhatian apabila hanya mengandalkan pelayanan kesehatan konvensional.
“Kalau siswa tidak sehat, diajarkan oleh guru unggul sekalipun dan didukung fasilitas lengkap, hasilnya tetap tidak maksimal. Prestasi anak juga pasti terganggu,” ujarnya.
Meski memberikan apresiasi, Afdhal mengingatkan keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada pelaksanaan kunjungan dokter, tetapi juga pada ketepatan sasaran dan tindak lanjut setelah pemeriksaan dilakukan.
Ia juga menilai program akan kurang efektif apabila siswa yang membutuhkan pemeriksaan justru tidak hadir saat dokter datang ke sekolah sehingga tidak masuk dalam pendataan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap lingkungan siswa, termasuk mengantisipasi penyalahgunaan obat-obatan maupun zat berbahaya di kalangan remaja. Menurutnya, sekolah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan orang tua, komite sekolah, serta masyarakat.
Afdhal menegaskan setiap kunjungan dokter harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas agar program tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Siswa yang direkomendasikan mendapatkan penanganan lanjutan harus benar-benar memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya.
“Setiap sekolah yang dikunjungi harus ada pembuktiannya. Kalau ada anak yang direkomendasikan untuk penanganan lebih lanjut, maka harus benar-benar mendapatkan pelayanan kesehatan,” katanya.
Ia berharap Program Doto Saweu Sikula mampu membangun kesadaran bersama bahwa kehadiran siswa di sekolah tidak hanya sebatas memenuhi absensi, tetapi juga memastikan setiap peserta didik berada dalam kondisi sehat sehingga siap mengikuti proses pembelajaran.
Menutup keterangannya, Afdhal menilai program tersebut merupakan kebijakan yang tepat karena berpotensi meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekaligus memperkuat kesehatan siswa sebagai fondasi utama dalam meraih prestasi. (*)
