Blangpidie – Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebut listrik di Aceh akan pulih 100 persen pada Senin (8/12) siang menuai protes dari sejumlah warga.
Hingga Senin malam, berbagai wilayah di Aceh masih mengalami pemadaman pasca gangguan listrik besar-besaran yang terjadi setelah banjir dan longsor melanda provinsi itu.
Di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), warga bernama Murdifin mengaku kecewa karena realitas di lapangan tidak sesuai dengan pernyataan Menteri ESDM.
“Kenyataannya malam ini listrik masih padam di daerah Aceh Barat Daya,” ujarnya, Senin (8/12) malam.
Kekecewaan serupa disampaikan Syarif, warga Abdya lainnya. Ia menilai pernyataan Bahlil tidak mempertimbangkan kondisi teknis pemulihan instalasi listrik di Aceh yang rusak akibat bencana pada Rabu (26/11).
“Dia (menteri Bahlil) jangan asbun. Beliau adalah menteri. Semestinya sebelum mengeluarkan pernyataan harus menganalisis terlebih dahulu sesuai ril fakta di lapangan,” kata Syarif.
Syarif menambahkan, pernyataan tersebut dapat menimbulkan kegaduhan dan memperburuk kondisi psikologis warga yang sudah terdampak bencana.
“Selalu masyarakat Aceh kami sangat kecewa. Pernyataan pak menteri tak sesuai realitas,” ungkapnya.
Menanggapi polemik itu, Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, memberikan klarifikasi terkait pernyataan Bahlil.
Ia mengakui banyak warga merasa bingung karena situasi faktual di lapangan belum sejalan dengan informasi yang disampaikan Menteri ESDM.
“Pernyataan tersebut memicu ekspektasi tinggi di tengah masyarakat,” ujar MTA, Senin (8/12/2025).
Menurutnya, pada Senin sore suplai listrik Aceh di jaringan menengah baru mencapai 60–70 persen.
“Untuk Banda Aceh sendiri baru 35–40 persen yang menyala,” sebut MTA.
Pemulihan listrik di Banda Aceh sangat bergantung pada pasokan tegangan tinggi dari Arun. MTA memperkirakan jika suplai dari Arun pulih hari ini atau besok, jaringan di Banda Aceh dapat kembali normal karena infrastruktur tegangan rendah tidak mengalami kerusakan berat.
Namun, situasi berbeda terjadi di kawasan yang terdampak paling parah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Tingkat pemulihan listrik di tiga wilayah itu masih berada di bawah 40 persen.
Sementara, di Lhokseumawe, pasokan listrik diperkirakan mencapai 75 persen, sementara wilayah Barat Selatan berada pada kisaran 70–80 persen.
Hingga Senin malam, sejumlah daerah di Aceh, termasuk Abdya, masih gelap gulita.
MTA mengatakan klarifikasi diperlukan agar tidak muncul kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kami memandang perlu klarifikasi untuk kondusivitas masyarakat. Banyak masyarakat merasa kecewa dan berpotensi resisten bagi tenaga PLN di lapangan,” katanya.
Pemerintah Aceh menegaskan bahwa ribuan petugas PLN dari berbagai daerah sedang bekerja maksimal untuk memulihkan jaringan listrik yang rusak.
“Kami berharap, kekeliruan yang disampaikan Menteri ESDM tersebut tidak mengakibatkan kekecewaan masyarakat terhadap petugas PLN di lapangan, apalagi sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap mereka,” ujar MTA. (*)
