Kuala Simpang – Sejak banjir, longsor, dan banjir bandang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh pada Rabu (26/11), Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir turun langsung ke wilayah terdampak.
Marlina menembus daerah pelosok hingga kawasan terisolasi untuk memastikan bantuan sampai ke tangan warga.
Siang dan malam dilalui tanpa jeda. Ia menyeberangi sungai, menyusuri jalur berlumpur, hingga menumpang helikopter demi menjangkau lokasi-lokasi terdampak, Jumat (19/12/2025).
Bagi Marlina, kehadiran langsung menjadi bentuk tanggung jawab sekaligus penguatan moral bagi korban bencana.
Beragam kisah pilu ia saksikan sepanjang perjalanan. Namun, di hadapan warga, Marlina berusaha tetap tegar dan menahan emosi agar mampu menjadi penenang di tengah situasi sulit.
“Sebagai pimpinan, kita harus mampu tampil sebagai penenang. Kita datang bukan hanya mengantar bantuan, tapi juga membawa simpati, empati, dan optimisme. Karena itu, kita harus terlihat kuat,” ujar Marlina, yang akrab disapa Kak Na.
Ketegaran itu sempat runtuh saat Kak Na tiba di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekrak, Aceh Tamiang, bersama Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah. Kerusakan parah yang terjadi di wilayah pelosok Bumi Mude Sedie tersebut benar-benar menguras emosinya.
“Hancur total, hanya masjid yang masih kokoh berdiri di Sekumur. Saya tak bisa membayangkan hari-hari warga dalam kondisi seperti ini. Anak-anak harus bermain di ruang gerak yang terbatas, sementara rumah mereka pulang hanyalah sisa puing yang disulap menjadi pondok-pondok tempat berteduh sementara,” kata Kak Na.
Tangis itu tak berlangsung lama. Ia kembali menyunggingkan senyum dan menyapa warga dengan penuh semangat. Selain menyalurkan bantuan tanggap darurat, Kak Na juga membagikan biskuit kepada anak-anak di halaman masjid.
Menjelang Maghrib, Kak Na dan rombongan bersiap menyeberangi Sungai Simpang Kanan. Langkahnya terhenti saat mendengar lantunan ayat suci dari seorang warga bernama Sariah (58).
Kak Na sempat berdialog dan menyemangati Sariah. Meski seluruh anggota keluarganya selamat, perempuan beranak tiga itu kehilangan rumahnya akibat banjir bandang.
Saat ini, Sariah tinggal di pondok berukuran 2×2 meter yang dibuat dari potongan kayu bekas dan sisa-sisa material yang terseret arus. Rumahnya, seperti ratusan rumah warga lain di Sekumur, lenyap tanpa bekas tertimbun kayu gelondongan.
Sekretaris Desa Kampung Sekumur, M. Saiful Juari, mengatakan kampung tersebut dihuni sekitar 260 kepala keluarga atau lebih dari 1.200 jiwa. Seluruhnya terdampak langsung banjir bandang yang melanda wilayah itu.
Sebelumnya, Kak Na dan rombongan juga menyalurkan bantuan ke posko Kampung Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, yang dipusatkan di Masjid Baitussalam. Bantuan serupa kemudian disalurkan ke sejumlah posko di Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka.
Selain kebutuhan dasar, sarana kesehatan menjadi perhatian serius Kak Na. Ia menyadari banjir bandang turut merendam fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan pustu.
Karena itu, di setiap posko, Kak Na meminta daftar kebutuhan obat-obatan yang paling mendesak. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak tetap berjalan di tengah keterbatasan. (*)
