AGN Logo | Kabar menggembirakan bagi masyarakat Indonesia. Sebuah inovasi di sektor energi terbarukan hasil karya anak bangsa bernama “Bobibos” (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos) kini hadir di tengah tingginya kebutuhan energi bahan bakar di Indonesia.

ADVERTISEMENT

Bobibos merupakan /harga-bbm-terbaru-per-november-2025-ada-yang-naik-cek-daftarnya-di-sini/" target="_blank" rel="noopener">bahan bakar alternatif yang diproduksi dengan bahan baku dari limbah pertanian, khususnya jerami yang selama ini sering dibakar oleh petani setelah panen.

Bobibos merupakan inovasi dari PT Inti Sinergi Formula yang diperkenalkan pada Minggu (2/11) di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

Produk ini termasuk dalam kategori Bahan Bakar Nabati (BBN) dan dikembangkan oleh Muhammad Ikhlas Thamrin bersama tim risetnya.

Dihimpun dari akun Instagram resmi Bobibos, Kamis (13/11/2025), Bobibos diproduksi melalui proses bioenergi serta suntikan serum khusus. Bobibos diklaim memiliki nilai oktan RON 98 dan ramah lingkungan.

ADVERTISEMENT

Selain itu, Bobibos diklaim mampu menekan emisi gas buang hingga mendekati nol, sehingga menjadi lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil.

Pengembang Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin, menjelaskan bahwa untuk memproduksi sekitar 3.000 liter bahan bakar nabati dibutuhkan kurang lebih 9.000 ton jerami, setara dengan hasil dari satu hektare sawah padi.

ADVERTISEMENT

CEO PT Inti Sinergi Formula itu menambahkan, limbah batang padi kering diolah melalui ekstraksi dengan serum.

“Prosesnya menggunakan mesin yang kami rancang sendiri, melalui lima tahap agar bahan baku tersebut bisa diubah menjadi bahan bakar ramah lingkungan Bobibos,” ujar Ikhlas kepada wartawan di Jonggol, Jawa Barat, Selasa (11/11/2025).

Ikhlas, pemuda asal Jonggol, menyampaikan bahwa Bobibos akan diproduksi secara massal mulai tahun depan di seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, mengingat luasnya lahan pertanian di negara ini.

“Dengan produksi merata di semua daerah, harga bahan bakar merah (solar) dan putih (bensin) bisa seragam. Kami berharap Bobibos bisa dijual di bawah Rp 10 ribu per liter,” ujarnya.

Selain pasar domestik, Ikhlas menyebut beberapa negara di Asia, Eropa, dan Brasil juga menunjukkan ketertarikan terhadap Bobibos.

“Kami sudah berkomunikasi dengan BUMN, khususnya PT Pertamina, agar kolaborasi ini membuat Bobibos menjadi kebanggaan dan bagian dari kedaulatan energi Indonesia,” kata dia.

Ikhlas menekankan bahwa seluruh riset dan pengembangan Bobibos dilakukan 100 persen di dalam negeri. Bahan bakar alternatif ini masih menunggu izin untuk produksi massal.

Setelah diluncurkan pada 2 November lalu, sekitar 3.000 liter Bobibos sudah diproduksi dan digunakan untuk uji coba skala kecil di Jonggol.

Inovasi Bobibos lahir dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Selama lebih dari 10 tahun, Muhammad Ikhlas Thamrin melakukan riset mandiri untuk menemukan alternatif energi yang bersumber dari bahan baku lokal.

Jerami dipilih karena ketersediaannya yang melimpah di Indonesia serta efisiensi produksinya yang tinggi. Dengan bahan baku lokal tersebut, biaya produksi juga dapat ditekan sehingga harga jual Bobibos ditargetkan lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional.

Selain memberikan manfaat bagi sektor energi, penggunaan jerami sebagai bahan baku juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi petani.

Limbah yang sebelumnya tidak bernilai, kini dapat diolah menjadi produk bernilai jual, sehingga petani dapat memperoleh tambahan penghasilan. (*)

Editor: Salman