Blangpidie — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) masih terjadi di sejumlah SPBU dan Pertashop di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Sejak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh pada Rabu (26/12), hingga hari ini Selasa (16/12/2025), kendaraan yang terus mengular masih juga belum teratasi.

Kondisi tersebut berlangsung setiap hari, meski pihak terkait menyebutkan stok BBM masih dalam kondisi aman.

Pantauan di SPBU Pantai Perak, Kecamatan Susoh, antrean kendaraan roda empat dan dua terlihat semakin mengular. Alih-alih berkurang, panjang antrean justru terus bertambah dari hari ke hari dan kini menjadi pemandangan rutin bagi warga.

Antrean panjang kendaraan bermotor mencapai ratusan meter hingga depan masjid Pantai Perak Kecamatan Susoh.

Sementara pada Senin (15/12) sekitar pukul 13.20 WIB, antrean panjang kendaraan roda empat tembus hampir satu kilo hingga kantor DPC Partai Gerindra Abdya di Gampong Keudai Siblah, Kecamatan Blangpidie.

ADVERTISEMENT

Antrean tersebut didominasi mobil pribadi, kendaraan pikap, dum truck dan kendaraan truk tronton.

Kendaraan roda empat yang mengantri di SPBU Pantai Perak Susoh sudah sangat menggangu ketertiban lalulintas yang dapat mengancam keselamatan pengendara lain. Soalnya, mobil mengantri di sisi kanan dan kiri badan jalan, sehingga jalanan menjadi sempit.

ADVERTISEMENT

Kondisi ini diperparah dengan listrik padam sudah lebih tiga pekan. Harga BBM yang dijual eceran juga meroket. Hal ini sudah memberatkan masyarakat di tengah pasca bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Aceh.

Hingga saat ini, antrean panjang kendaraan tersebut masih juga belum teratasi. Banyak pihak menduga antrean panjang kendaraan itu disebabkan oleh oknum pelangsir BBM yang ikut mengantri tiap hari di SPBU.

Tidak ada tanda-tanda penertiban oleh pihak aparat keamanan terhadap kendaraan yang diduga sengaja mengantre BBM di SPBU untuk diperjualbelikan dengan harga tinggi kepada masyarakat.

Salah seorang warga, Samsul mengaku kecewa dengan pemerintah daerah, bahkan aparat kepolisian yang hingga saat ini tidak ada tanda-tanda mereka turun langsung ke lapangan untuk mengatasi kondisi tersebut. Hal tersebut mengesankan bahwa pemerintah daerah Abdya, DPRK hingga aparat keamanan terkesan lepas tangan.

ADVERTISEMENT

“Harapan kami masyarakat, pak bupati, Kapolres, Dandim dan pimpinan DPRK turun tangan untuk melakukan penanganan terhadap masalah ini. Jika tidak, antrean panjang tidak akan selesai-selesai,” ujar Samsul kepada Acehglobalnews.com, Selasa (15/12).

“Isunya ada kendaraan itu-itu saja yang antre di SPBU. Itu sudah jadi rahasia umum. Tapi kalau benar ada, kenapa tidak ada tindakan tegas dari aparat,” sambung Samsul.

Menurut dia, kondisi ini semakin memprihatinkan karena terjadi di tengah situasi pascabencana banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Aceh.

“Teungoh lam bala, dimita laba lom. (Sedang bencana, masih juga cari keuntungan),” ujar Samsul.

Hal senada juga diungkapkan Febi, warga Kecamatan Blangpidie. Ia berharap kepolisian turun langsung ke lapangan merazia oknum pengendara yang sengaja mengantre minyak untuk diperjualbelikan kembali ke masyarakat dengan harga mahal.

Febi menyoroti sudah tidak ada lagi penjualan BBM eceran di kios pertamini yang sebelumnya menjadi alternatif warga.

“Di Blangpidie sekarang sudah tidak ada lagi pertamini yang jual BBM. Akhirnya masyarakat terpaksa beli ke pedagang dadakan dengan harga yang tidak wajar,” katanya.

Ia menyebut beban ekonomi masyarakat semakin berat di tengah kondisi listrik padam dan sebagian harga barang terus meningkat. Ia meminta pemerintah daerah untuk segera melakukan tindakan kongkrit guna mengatasi masalah ini di lapangan.

“Salah satu solusinya, BBM mesti didistribusikan ke kios-kios pertamini. Hal ini bisa mengurai antrean panjang kendaraan bermotor di SPBU,” tutur Febi.

Sementara itu, warga dan pedagang di Gampong Padang Hilir, Kecamatan Susoh, mengaku kerap melihat kendaraan yang sama berulang kali mengantre di SPBU Pantai Perak. Kondisi tersebut menimbulkan kecurigaan adanya praktik pelangsiran BBM.

“Ada mobil yang itu-itu saja, baik mobil pribadi maupun pikap. Diduga memang untuk melangsir minyak,” kata David, seorang pedagang warung kopi di kawasan tersebut.

Hal senada disampaikan seorang warga yang rumahnya berada di tepi jalan nasional Gampong Padang Hilir, Susoh. Ia mengaku hampir setiap hari melihat kendaraan yang sama kembali mengantre di SPBU.

“Kemarin antre, hari ini kelihatan antre lagi. Itu yang kami lihat setiap hari,” ujarnya. (*)

Editor: Salman Sy