Blangpidie – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar untuk pengembangan komoditas kopi. Program ini difokuskan bagi para petani di Kecamatan Tangan-Tangan dan Lembah Sabil sebagai langkah awal menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru daerah.

Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Abdya, Safaruddin, saat menghadiri Workshop Kopi bertajuk Pemasaran Kopi dan Pelatihan Menjadi Petani Kopi Muda Aceh Barat Daya di Jamboe Drien, Minggu (19/7/2026).

Safaruddin menjelaskan bahwa pemerintah daerah tidak hanya menyalurkan bibit, melainkan juga menyiapkan pendampingan dari hulu ke hilir hingga memastikan produk memiliki pasar yang jelas. Langkah ini diambil di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah agar Abdya tidak terus bergantung pada dana transfer pemerintah pusat.

“Kita sedang punya program dua komoditi unggulan, bantuan bibit kopi robusta dan juga bibit nilam. Nilainya Rp1,5 miliar lebih kurang itu kita coba di wilayah Tangan-Tangan dan Lembah Sabil,” kata Safaruddin.

Selain menyalurkan bibit, pemerintah daerah juga berkomitmen membuka akses infrastruktur pendukung, termasuk pembangunan jalan menuju sentra produksi kopi. Skema bantuan kali ini dipastikan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di mana petani akan terus dikawal mulai dari persiapan lahan hingga masa panen.

ADVERTISEMENT

“Pemerintah nanti akan mengupayakan bukan hanya kasih bibit, tapi juga akses jalannya. Dari hulu sampai hilirnya kita selesaikan,” ujar Safaruddin.

Bersumber dari DOKA untuk Lahan 120 Hektare

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Abdya, Hendri Yadi, memaparkan bahwa anggaran sebesar Rp 1,5 miliar tersebut bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA). Alokasi dana ini khusus diperuntukkan bagi pengadaan bibit kopi di lahan seluas sekitar 120 hektare.

ADVERTISEMENT

Hendri menambahkan, pengembangan kopi tahun ini memang difokuskan di Kecamatan Tangan-Tangan dan Lembah Sabil. Sementara untuk ekspansi ke wilayah lain seperti Blangpidie dan Setia direncanakan baru berjalan tahun depan.

Sistem penanamannya sendiri akan dilakukan secara parsial (tumpang sari) agar tidak mengganggu tanaman produktif yang sudah ada di lahan masyarakat. Kopi robusta dinilai bisa tumbuh berdampingan dengan komoditas perkebunan lain seperti durian.

Potensi Robusta dan Peluang Kopi Liberika

Di sisi lain, Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU) sekaligus praktisi kopi, Dedy Darmansyah, menilai langkah Pemkab Abdya sangat strategis. Dari kacamata geografis, wilayah Abdya memang jauh lebih cocok untuk pengembangan kopi robusta dibanding arabika yang memerlukan dataran tinggi.

Kendati demikian, Dedy menyarankan agar pemerintah daerah juga mulai melirik potensi kopi liberika yang kini pasarnya sedang naik daun di tingkat internasional.

ADVERTISEMENT

“Dalam kompetisi barista di Kanada itu yang menang liberika. Malaysia sudah duluan, kita yang punya potensi jangan sampai ketinggalan,” pungkas Dedy. (*)

Editor: Tim Redaksi
Penulis: Salman Sy